PATTERN OF CONFLICT INTERACTION

PATTERN OF CONFLICT INTERACTION
1. Negative reciprocity
Pola dimana perilaku agresi akan mengakibatkan perilaku agresi pula. Sekali melakukan agresi, orang lain akan mengikuti. Ada dua alasan mengapa ini terjadi : pertama, seseorang lebih merasakan emosi negatif daripada postif saat terjadi konflik. Kedua, orang merasa bahwa orang lain menunjukkan rasa permusuhan. Ada beberapa taktik yang digunakan, yaitu :


• Gunnysacking
Gunnysacking terjadi ketika orang menimbun keluhan dan melontarkannya pada partnernya saat konflik.
• Kitchensinking
Kitchensinking adalah mengulangi kembali argumentasi lama mereka.
• bringing third party.
Bringing third party terbagi menjadi beberapa cara: pertama,orang mengatakan hal yang dikatakan orang lain sebagai bukti. Kedua, membawa-bawa teman dan keluarga dalam argumentasi, ketiga membandingkan partnernya dengan orang lain.
2. The demand-withdrawal pattern
Terjadi ketika seseorang menggunakan demanding communication agar terjadi konflik, sementara pasangannya memilih menarik diri/tidak menghiraukan. Pasangan yang mengalami hal ini bermasalah dalam punctuation, dimana mereka punctuate penyebab konflik secara berbeda-beda.
3. The four horsemen of the apocalypse
• complain/critism
Dalam complain, ada lima tipe yang mungkin terjadi, yaitu : komplain tentang perilaku, karakteristik, performance, penampilan, dan metacomplain (mengkomplain kebiasaan pasangannya yang suka mengkomplain).
• contept/disgust
disgust adalah tipikal komunikasi yang menimbulkan kesan tidak enak. Contempt adalah cara komunikasi yang negatif.
• Defensiveness
Beberapa perilaku komunikasi yang termasuk defensiveness antara lain : denying responsibility for a problem, issuing countercomplain, whining, making accusiation, dan reading mind. Mind reading terjadi ketika orang berasumsi bahwa mereka tahu tentang perasaan, emosi, motivasi, dan perilaku pasangannya. Mind reading menyalahi dua prinsip fair fighting, yaitu : sering langsung mengambil kesimpulan dan berdasarkan overgeneralization
• Stonewalling
Adalah kegiatan menghindar dari konflik
4. Patterns of accomodation
Ada tiga prinsip yang utama, yaitu : orang punya kecendurungan untuk retaliate ketika dihadapkan pada destructive behavior, akomodasi terjadi ketika orang bisa diperdaya oleh kecenderungan tersebut dan terlibat dalam komunikasi yang kooperatif, dan akomodasi biasanya terjadi pada pasangan yang mempunyai komitmen. Kunci keberhasilan akomodasi adalah positif reciprocity, yaitu keduanya terlibat dalam strategi yang kooperatif

EXPLANATION FOR CONFLICT PATTERNS

1. Emotional flooding
Terjadi ketika seseorang menjadi kaget atas perilaku pasangannya yang negatif. Ketika ini terjadi,biasanya mereka melakukan button pushing, yaitu dengan sengaja mengatakan sesuatu yang menyakitkan pasangannya. Ada juga empty threat, dimana biasanya mereka mengancam akan melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
2. Attribution
Adalah proses perseptual untuk mengetahui alasan atau penyebab dari perilaku seseorang. Ada tiga tipe spesifik dari attribusi, yaitu :
a. people attribute a person behaviour to personal vs situational cause
b. People make attributions about behaviour being stable versus unstable
c. People make attributions about how global versus specific
3. Communication skill deficit
a. Argumentative vs aggresiveness
Argumentative : model konflik yang fokus pada proses argumentasi
Verbal aggresiveness : menyerang konsep diri orang lain dengan tujuan menyakiti orang lain
b. Effective listening:
– Let your partner speak
– Put yourself in your partner place
– Don’t jump into conclusion
– Ask questions
– Paraphrase what your partner says

MANAGING CONFLICT IN RELATIONSHIP
1. Defining interpersonal conflict
a. Expressed disagreement
Konflik eksis hanya jika terjadi disagreement atau tension
b. Interdependence
Hanya orang yang berhubungan dengan orang lain yang berpotensi menimbulkan konflik
c. Felt need to resolve
Hanya konflik yang menurut kita patut diselesaikan yang akan dibahas
2. Principle of conflict
a. Conflict is a natural process in all relationship
Konflik itu normal, tidak dapat dihindarkan dalam setiap hubungan interpersonal
b. Conflict may be overt or covert
Overt conflict : konflik yang terjadi secara eksplisit, sementara covert adalah sebaliknya.
c. Conflict behavior and meaning are shaped by social location
– Culture diffirences regarding conflict
– Differences arising from distint social communities
d. Conflict can be managed well or poorly
Salah satu alasan kenapa konflik ditangani dengan buruk adalah karena sering berkaitan dengan perasaan yang tidak dapat diidentifikasikan/diekspresikan oleh seseorang. Cara mengatasinya adalah mengenali perasaan-masing masing dan memilih cara terbaik untuk mengkomunikasikan perasaan itu.
e. Conflict can be good for individual and relationship
Beberapa manfaat konflik : membuat individual semakin berkembang dan mempererat hubungan, membuat pasangan jadi saling mengerti satu sama lain, dan bisa menerima point of view yang berbeda dari orang lain.
3. Orientations to conflict
a. Lose-lose
Berarti bahwa dalam suatu konflik, semua yang terlibat di situ mengalami ‘kekalahan’. Ini sangat tidak sehat dan merusak hubungan.
b. Win-lose
Berasumsi bahwa salah seorang diantaranya menang, sementara yang lain kalah. Disagreements dianggap sebagai pertempuran yang harus dimenangkan.
c. Win-win
Menyarankan bahwa selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah sehingga semua orang merasa puas.
4. Responses to conflict
a. Exit response
Artinya, orang yang bersangkutan meninggalkan konflik, baik secara fisik maupun psikologis. Biasanya ini terjadi pada konflik yang berorientasi pada lose-lose atau win-lose.
b. Neglect response
Adalah mengurangi masalah, disagreement, kemarahan, tension, dan lain-lain yang bisa berujung pada overt conflict
c. Loyalty response
Berarti mempertahankan komitmen dalam relationship meski ada masalah. Mereka memilih bersikap toleransi terhadap masalah tersebut.
d. Voice response
Sikap siap menghadapi konflik secara langsung dan berusaha menyelesaikannya.
5. Communication patterns during conflict
a. Unproductive conflict communication
– Early stages
Merupakan stage awal, yang bermula dari komunikasi yang gagal menganggap/confirm keberadaan seseorang
– Midde stage
Kitchensinking (lihat penjelasan di atas) termasuk di dalamnya. Ditandai dengan banyaknya interupsi dalam percakapan.
– Later stage
Merupakan stage final dimana terjadi counterproposal atau kecenderungan memenangkan opininya sendiri. Juga terjadi egosentrim dan dogmatism.
b. Constructive conflict communication
– Early stages
Mau mengakui keberadaan orang lain, serta menghargai perasaannya.
– Middle stage
Terjadi agenda building, atau tetap fokus pada isu utama, serta tidak menginterupsi pembicaraan pasangannya.
– Later stage
Stage terakhir yaitu menyelesaikan masalah yang terjadi. Ada contracting, yaitu membangun solusi lewat negosiasi dan menerima ide orang lain. Ada juga counterproposal, atau berlomba agar usulnya diterima. Dalam counterproprosal, terjadi orientasi win-lose, jadi lebih baik menggunakan contracting
c. Conflict management skills
Ada 8 conflict management skill spesifik yang dapat menyebabkan komunikasi interpersonal yang efektif :
– Attend to relationship level of meaning
– Communicate supportively
– Listen mindfully
– Take responsibility for your thoughts, feeling, and issue
– Check perception
– Look for points of agreement
– Look for ways to preserve the other’s face
– Imagine how you’ll feel in the future
6. Guideliness for effective communication during conflict
a. Focus on the overall communication system
Karena komunikasi sifatnya sistemik, maka kita dapat mengira-ngira bagaimana kita akan menghadapi sebuah konflik dengan mengamati sistem yang berjalan dalam hubungan kita
b. Time conflict effectively
Tiga cara untuk membuat manajemen konflik menjadi efektif : jangan berkonflik dengan orang yang sedang tidak fit; kalau ingin berdiskusi, pilih waktu saat kedua pihak sudah siap berdiskusi; lalu yang ketiga adalah bracketing atau fokus pada problem utama.
c. Aim for win-win conflict
Apabila konflik terjadi pada dua orang yang saling menyayangi, maka buatlah hasil akhir konflik itu win-win oriented.
d. Honor yourself, your partner and the relationship
Tidak mungkin terjadi komunikasi yang efektif jika kita tidak menghargai partner kita, atau diri kita sendiri
e. Show grace when appropriate
Grace : memaafkan orang lain atau mengesampingkan kebutuhan kita kalau tidak ada peraturan yang mengharuskan demikian. Grace bisa memadamkan kemarahan, emosi, dll.

Iklan

MAINTAINING INTIMATE RELATIONSHIP

DEFINING RELATIONAL MAINTENANCE
Menurut Dinda dan Canary (1993), ada empat pengertian umum dari relational maintenance. Pertama, relational maintenance melibatkan cara mempertahankan sebuah hubungan yang sudah ada. Kedua, relational maintenance melibatkan cara mempertahankan sebuah hubungan dalam kondisi atau bentuk tertentu, atau dalam level keintiman yang stabil, jadi statusquo-nya bisa dipertahankan. Ketiga, relational maintenance melibatkan cara mempertahankan sebuah hubungan dalam kondisi yang saling menguntungkan/memuaskan kedua belah pihak. Keempat, melibatkan cara mempertahankan sebuah hubungan yang sedang dalam proses perbaikan. Secara garis besar, relational maintenance adalah cara mempertahankan sebuah hubungan dalam taraf yang diharapkan.

BEHAVIOR USED TO MAINTAIN RELATIONSHIP
Types of Maintenance Behaviors


Ayers (1983) menemukan tiga strategi utama untuk mempertahankan hubungan dalam derajat keintiman tertentu:
• Avoidance
Menghindari berbicara atau beraktifitas yang dapat mengubah hubungan
• Balance
Saling berperilaku baik dan mendukung secara emosional
• Directness
Secara langsung menyampaikan pada yang bersangkutan mengenai keinginan untuk mempertahankan hubungan
Dindia (1989) meneliti strategi mempertahankan hubungan pada pasangan yang sudah menikah. Ada tiga strategi umum yang dia temukan:
• Prosocial
Perilaku-perilaku yang positif dalam sebuah hubungan
• Romantic
Perilaku yang menunjukkan rasa sayang, sikap spontan, dan kesenangan
• Antisocial
Perilaku yang koersif, seperti memanipulasi atau mengontrol pasangan
Strategic and Routine Maintenance Behaviors
Strategic maintenance meliputi perilaku yang secara sengaja dimaksudkan untuk mempertahankan hubungan. Routine behavior adalah perilaku yang disengaja dan kurang mengedepankan strategi.
Effects of Maintenance Behaviour
Semakin sering sebuah pasangan menerapkan maintenance behaviour, maka hubungan mereka akan semakin baik. Pasangan tersebut juga merasa lebih puas dengan hubungannya. Strategi prosocial seperti postivity, assurance, openness, task sharing, joint activities, dan social network terbukti mempengaruhi hubungan.
• Postivity adalah perilaku yang ceria dan optimistik, juga suka memuji dan menyemangati pasangan.
• Assurances adalah perilaku eksplisit yang menunjukkan seberapa besar cinta atau kepedulian mereka kepada pasangannya
• Joint activities dapat meningkatkan perasaan akan kesamaan dan kebersamaan
• Task sharing adalah pembagian tugas kepada pasangan secara adil
• Social nework adalah menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman-teman pasangan

MAINTENANCE BEHAVIOR IN VARIOUS TYPES OF RELATIONSHIP
Maintenance Behavior in Romantic Relationship
Maintenance behavior yang melibatkan cinta dan kasih sayang paling banyak digunakan oleh romantic couple, misalnya openness, assurances, dan positivity. Maintenance behaviour yang dilakukan akan berbeda tergantung dari stage romantic relationship yang dilalui. Menurut Stafford dan Canary (1991) ada empat tahap romantic relationship: casually dating, seriously dating, engaged, dan married. Mereka menemukan bahwa :
1. Married dan engaged couples lebih banyak menggunakan task sharing dan assurance daripada dating couple
2. Engaged dan seriously dating menggunakan lebih banyak opennes dan positivity daripada pasangan yang married atau casually dating
3. Married couple lebih banyak menggunakan social networking
Maintenance Behavior in Friendship
Ada tiga maintenance behaviour yang penting dalam persahabatan: openness, supportiveness, dan positivity. Namun maintenance behaviour akan berbeda tergantung dari jenis persahabatannya.
• Same-sex friendship
Dalam persahabatan sesama jenis, wanita dikategorikan lebih banyak bicara, sementara pria lebih banyak beraktifitas. Wanita menerapkan sistem face to face, sementara pria condong ke side to side. Persahabatan antar wanita juga lebih dalam secara emosional dan mereka sangat men-support sahabatnya. Sebaliknya dengan pria.
• Cross-sex friendship
Pertemanan lawan jenis bisa jadi membingungkan dan ambigu, karena bisa saja sahabat kita tiba-tiba menjadi tertarik pada kita. Ada beberapa tantangan bila sahabat lawan jenis ingin tetap terpaku pada status “hanya teman” :
a. Emotional bond challenge : pada saat sahabat kita menganggap kita sebagai gebetan daripada sekedar teman biasa
b. Sexual challenge : berkaitan dengan ketertarikan secara seksual yang mungkin terjadi dalam persahabatan lawan jenis
c. Public presentation challenge : publik menyangka ada hubungan cinta/seksual dalam sebuah persahabatan lawan jenis
Ada empat tipe cross-sex relationship:
a. Strictly platonic : jika tidak ada seorang pun dalam hubungan persahabatan lawan jenis yang ingin meningkatkan hubungannya menjadi percintaan
b. Mutual romance : jika kedua orang dalam persahabatan lawan jenis ingin meningkatkan hubungannya menjadi percintaan
c. Desires-romance : ada satu pihak yang ingin pacaran, tapi pihak lain ingin berteman saja
d. Reject-platonic : ada yang ingin berteman, tapi pihak lain ingin pacaran (beda posisi aja kalau dibandingkan desire-romance)
Namun kebanyakan, persahabatan lawan jenis ingin tetap jadi teman saja (platonic). Ada enam alasan untuk itu :
1. Safeguard the relationship : mereka takut merusak persahabatan apabila putus
2. Mereka tidak tertarik dengan sahabat mereka
3. Network disapproval : takut sekelilingnya menolak hubungan mereka
4. Sudah ada orang ketiga dalam hubungan mereka (dengan kata lain, salah satu sudah punya pasangan)
5. Risk aversion : takut disakiti dalam hubungan percintaan
6. Sedang tidak ingin pacaran dengan siapapun pada saat itu
The Special Case Of Long-Distance Relationship (LDR)
Ada dua aspek khusus dalam kajian komunikasi yang dapat membuat hubungan LDR tetap memuaskan kedua belah pihak.
1. Tetap menjalin kontak melalui media-media yanng tersedia
2. Pelaku LDR menunjukkan relational behavior mereka yang terbaik jika mereka bersama-sama
Ada aspek ketiga selain aspek diatas, yaitu idealization : mereka lebih idealis dan percaya bahwa suatu saat mereka akan menikah

BARRIERS TO RELATIONAL DISSOLUTION
Internal Psychological Barriers
• Commitment : seberapa besar seseorang merasa terikat dan tetap ingin bersama dengan orang lain
• Obligation : jika salah satu pasangan merasa berhutang sesuatu pada pasangannya
• Investment : sumber daya yang sudah ‘didepositokan’ dalam hubungan dan tidak akan kembali jika hubungan berakhir
• Strong religious atau moral belief juga bisa menjadi barrier/penghalang bagi seseorang untuk berpisah, terutama pada pasangan yang sudah menikah
• Meshing of people’s self and relational identity : hubungan dianggap sebagai bagian identitas diri
• Parental obligation : kehadiran seorang anak membuat pasangan lebih memilih tetap bersama
External Structural Barriers
• Financial consideration : orang memilih tetap bersama karena kadang mereka didukung oleh pasangannya dalam hal keuangan dan tidak sanggup berdiri sendiri, apalagi bila sudah punya anak yang harus diurus
• Legal process : biasanya terjadi pada pasangan yang menikah. Proses perceraian kadang merepotkan hingga mereka memilih untuk tetap bersama
• Social pressure : jika hubungan putus, maka akan mempengaruhi lingkungan sosial mereka

THE DIALECTICAL PERSPECTIVE
Baxter’s Dialectics Theory
Ada tiga dialectic tension di sini : integration-separation, stability-change, expression-privacy. Dialektik ini memiliki manifestasi internal dan eksternal. Internal manifestation adalah tension yang dirasakan hanya oleh pasangan, sementara external manifestion dirasakan oleh pasangan berikut lingkungan sekitarnya.
• Integration-separation : orang ingin menjadi makhluk sosial, tapi juga ingin menjadi makhluk individu. Internal manifestation(IM)-nya adalah connection-autonomy, atau keinginan dekat dengan pasangan, tapi juga ingin mandiri. External manifestation (EM)-nya adalah inclusion-seclusion, atau ingin mengalokasi waktu dengan pasangan, tapi juga ingin menghabiskan waktu dengan kelompok sosial.
• Stability-change : orang ingin di posisi aman dan berkesinambungan, sementara di sisi lain ingin memburu kesenangan dan tidak selalu berkesinambungan. IM-nya : predictability-novelty (ingin sesuatu yang bisa diprediksikan, namun juga ingin sesuatu yang spontan). EM : conventionally-uniqueness (mereka berlaku secara konvensional agar diterima publik, tapi juga ingin menjadi orang yang unik)
• Expression-privacy : keinginan untuk didengar oleh publik,juga ingin menyimpan info sendirian. IM: opennes-closedness (bagaimana pasangan membagi rahasia). EM : revelation-concealment (pasangan ingin menyiarkan pada publik apa yang terjadi tapi juga ingin menyimpannya)
Cara untuk memanage tension:
• Selection
Lebih memilih salah satu dialektik
• Separation
Menempatkan tension di waktu yang tepat.
Ada dua cara untuk memanagenya :
1. Cycling alternative : bergerak dari satu dialektik ke dialektik lain dalam cycling fashion
2. Topical segmentation : menekankan salah satu dialektik dalam topik berbeda
• Neutralization
Menolak terlibat penuh dalam salah satu dialektik. Stateginya adalah :
1. Moderation : mengambil titik tengah
2. Disqualification : ambigu, jadi tidak berpihak ke dialektik manapun
• Reframing
Membingkai ulang dialektik sehingga kelihatannya keduanya berkaitan, bukan bertentangan

Rawlin’s Dialectical Tension
Rawlin mengajukan enam dialectic, dua diantaranya mirip dengan teori Bakhtir, yaitu independent-dependent yang sama dengan conncetion-autonomy dan expressive-protection yang setara dengan openness-closedness. Empat dialektik yang berbeda adalah :
1. Judgement-acceptance : menerima teman apa adanya atau mengkritik mereka
2. Affection-instrumentality : mengedepankan perasaan atau sekedar tugas instrumental
3. Public-private : ada aspek yang ditonjolkan ke publik, ada yang disimpan sendri
4. Ideal-real : keinginan untuk merubah sahabat menjadi seperti apa namun ada juga keinginan untuk meneria persahabatan apa adanya

CONFLICT IN ROMANTIC RELATIONSHIP
Disagreement adalah konflik yang paling umum dalam romantic relationship, dan pasangan yang tidak bahagia lebih banyak berkonflik. Kadang dalam konflik, sering terjadi kekerasan, misalnya mendorong, mengguncang tubuh pasangannya dengan kasar, memegangnya dengan kencang, dst

GETTING ALONG WITH THE IN-LAWS RELATIONSHIP WITH PARENTS IN-LAW

• Defining the relationship with Parents in Law
Ada banyak humor, stereotype negatif, dan cerita horror tentang mertua. Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian orang menganggap hubungan dengan mertua kurang penting daripada hubungan pernikahan. Ini didukung dengan tipe keluarga di Barat yang cenderung independen. Hubungan ini pun menjadi jauh, negatif, dan relatif inconsequential.

• The nonvoluntary, triadic structure of the paren-in –law/child-in-law relationship


Kunci dari elemen yang membuat hubungan mertua-menantu menantang adalah adanya anggapan bahwa mereka terikat dalam hubungan yang triadic dan tidak sukarela. Ini membuat hubungan jadi sulit dipelihara dan dinegosiasikan. Asumsi pertama terhadap hal ini adalah triadic, yaitu bahwa hubungan mertua-menantu dihubungkan oleh orang ketiga, yakni anak/pasangan yang bersangkutan. Dan hubungan mereka dengan anak/pasangan biasanya lebih diutamakan daripada dengan mertua/menantu. Asumsi kedua adalah mereka tidak sukarela/nonvoluntary dalam menjalankan hubungan ini. Apabila hubungan ini diputuskan, maka akibatnya tidak main-main, oleh karena itulah mereka berusaha keras memeliharanya. Menurut Thibaut dan Kelleys (1959), semakin seseorang dipaksa untuk berhubungan dengan orang lain, maka hasilnya akan semakin negatif. Untuk mengatasinya, diperlukan kekuasaan yang setara dikombinasikan dengan pengaruh yang saling menguntungkan. Ada dua alasan untuk itu, yaitu perspektif social exchange tentang kemungkinan untuk berperilaku serupa dan kemungkinan untuk memaksimalkan hasil yang didapatkan oleh kedua belah pihak.

• Interaction between parents-in-law and children-in-law
a. Patterns of mutual aid
Merupkan sifat resiprok dalam keluarga dalam hal saling membantu. Dengan cara ini, masing-masing pihak bisa memaksimalkan hasil yang diperoleh. Sikap saling bantu ini akan memuncak pada peristiwa yang besar dalam hidup, misalnya pernikahan, kelahiran anak, dll. Tipe bantuan berbeda sesuai dengan kebutuhan, dan bergeser sesuai konteksnya. Misalnya pada saat menikah, sepasang anak muda menerima bantuan keuangan, akan tetapi setelah dewasa, bantuan akan bergeser dengan bantuan nonfinacial, seperti membantu mengawasi anak, dll. Menurut Bengston (1993), ada yang namanya “set of shared expectation and obligations”, utamanya saat generasi yang lebih tua dalam keluarga membutuhkan bantuan generasi yang lebih muda. Menurut penelitian Kivet (1985), anak dan menantu memberi paling banyak bantuan kepada generasi yang lebih tua.

b. Effects of in-law interaction on relationship with child/spouse
Menerangkan bahwa hubungan menantu dengan mertua mempengaruhi hubungan mereka dengan anak/pasangan. Ini kurang lebih mempengaruhi kualitas pernikahan yang bersangkutan. Konflik antar mertua-menantu biasanya terjad pada pasangan yang pernikahannya tidak bahagia. Proximity juga mempunyai efek dalam konflik mertua-menantu. Semakin jauh jarak rumah menantu-mertua, kemungkinan timbul konflik semakin besar. Akan tetapi, ada efek positif dari hubungan mertua-menantu. Kedekatan antara mertua-menantu akan berimbas pada kebahagiaan dan kepuasan pernikahan yang bersangkutan. Kunci dari masalah ini adalah penerimaan oleh masing-masing pihak. Sebaliknya, jika mertua-menantu berkonflik, maka hubungan anak-orangtua ikut terganggu. Hal yang berbeda terjadi jika anak dan pasangannya memutuskan bercerai. Ada yang masih berhubungan dengan keluarga mantan pasangannya, ada juga yang memutuskan hubungan karena sudah merasa bukan keluarga. Ini semua tergantung dari kualitas hubungan mertua-menantu semasa masih terikat pernikahan.

c. The triad and larger family system
Merupakan salah satu cara bagaimana hubungan triad (mertua-menantu-anak) dikondisikan dalam sebuah keluarga besar. Disini, menantu memiliki kebebasan untuk memanggil orangtua pasangannya dengan sebutan ‘ayah dan ibu’ dan memanggil adik/kakak iparnya sebagaimana pasangannya biasa memanggil mereka. Menurut Pfeifer (1989) sering timbul kesulitan dalam hal ini, karena menantu biasanya ingin diperlakukan sama dengan keluarga inti dan membanding-bandingkan perlakuan mertua terhadap anak-anak kandungnya dengan dirinya. Teori ini berkaitan dengan communication privacy management (CPM), dimana seorang anggota ‘kelompok’ baru dianggap apabila mendapat informasi yang dianggap privat oleh anggota lainnya. Dalam hal ini, menantu juga ingin dibagi informasi sama seperti yang lain dan ingin mendapatkan peran seperti yang lain, padahal sebelumnya sudah ada rule tersendiri tentang siapa harus melakukan apa. Akibatnya, harapannya tidak terpenuhi dan muncul konflik. Hal ini bisa dinegosiasikan, dan apabila berhasil, hubungan yang positif akan tercipta. Kuncinya, lagi-lagi adalah penerimaan terhadap kehadiran si menantu.

RELATIONSHIP WITH SIBLING IN-LAW
• What is sibling in law?
Saudara ipar adalah siapa saja yang kebetulan adalah saudara dari pasangan yang kita nikahi. Jika pernikahan adalah hubungan yang primary, maka saudara ipar adalah hubungan yang secondary.

• What is known about communication among sibling in law?
Saudara ipar berbeda dengan hubungan lain dalam keluarga. Pertama, saudara ipar berbeda dengan pernikahan karena tidak sukarela dan hubungan yang secondary (kelas dua). Yang kedua, jika dalam monogami jumlah orang dinikahi hanya satu, dalam kasus saudara ipar, bisa jadi kita harus memanage beberapa orang dalam hubungan ini. Yang ketiga, perbedaan antara mertua dengan saudara ipar adalah, biasanya dalam hubungan mertua-menantu, menantu hanya perlu memanage satu pasang orangtua, sedang dalam kasus saudara ipar, bisa jadi yang diurus lebih dari sepasang, bisa tiga, empat, lima, dst.

• Disclosure and privacy
Konflik yang terjadi dengan saudara ipar biasanya berkaitan dengan keterbukaan informasi. Karena kita sudah menikah dengan saudaranya, otomatis kita merasa sudah berhak tahu tentang informasi privat dalam keluarga. Padahal tidak semua keluarga beranggapan demikian dan itu bisa memicu konflik. Lagi-lagi ini berkaitan denan CPM.

• Jealousy and envy
Penelitian menunjukkan bahwa saudara biasanya menginginkan yang dimiliki saudaranya tapi mereka tidak punya (iri) dan takut hal yang jadi miliknya diambil orang lain (cemburu). Dalam kasus saudara ipar, mereka biasanya iri karena hal-hal yang diberikan orangtua kandung saudara iparnya tidak sama dengan apa yang diberikan orangtuanya sendiri. Sementara kecemburuan biasanya terjadi bila pasangan kita lebih memilih menghabiskan waktu dengan saudaranya.

• Affection
Ada beberapa alasan mengapa kasih sayang antar saudara ipar itu unik:
a. Kasih sayang mengantarkan hubungan kita menjadi lebih maju, dari sekedar kewajiban ke hubungan yang lebih sosial, lebih menyenangkan. Bisa juga mempengaruhi kualitas pernikahan kita
b. Kasih sayang antar saudara ipar dinilai Flord dan Morman (1997) lebih pantas dibandingkan dengan teman.

• Relational maintenance
Perilaku maintenance bisa dilakukan secara rutin maupun secara strategis. Contoh perilakunya adalah positivity, sharing task, terlibat dalam social networks, openness, assurances, joint activities, avoidance behaviors, antisocial behaviour, humors, menggunakan kartu, surat, atau telepon. Maintenance behaviour berbeda-beda tergantung tipe hubungannya. Sharing task adalah perilaku yang paling banyak digunakan, sementara openness paling sedikit digunakan. Akan tetapi hati-hati menggunakan maintenance behaviour, karena sering terjadi paradoks. Misalnya, niat kita menghibur suami adik ipar yang di-PHK, namun salah-salah dianggap menggodanya.

• Contemporary research on sibling in law
Flord dan Morr (2000) mempelajari hubungan antar saudara ipar sebagai bagian dari penelitian menyeluruh mengenai komunikasi berbasis kasih sayang dalam keluarga. Menurut mereka, kasih sayang dalam hubungan antar saudara ipar secara langsung dan signifikan dapat menghasilkan kedekatan dan kepuasan relasional. Sementara Yoshimura (2005) menemukan bahwa saudara ipar mempunyai kemungkinan untuk mencemburui satu sama lain dengan tingkatan yang cukup tinggi. Dan menurutnya pula, keirian/kecemburuan itu pasti ada penyebabnya, dan penyebabnya bermacam-macam. Selain penelitian di atas, dibutuhkan banyak penelitian lain yang akan mengeksplor sisi lain dari hubungan antar saudara ipar ini.

PLAYING WITH POWER : DOMINANCE AND INFLUENCE IN RELATIONSHIP

Defining Power and Related Terms
Kekuatan digambarkan oleh bagaimana dia memberikan efek kepada pasangannya untuk melakukan apa yang dia inginkan. Pertama, dapat dilakukan melalui kelebihan dai pasangan tersebut. Bisa dalam keuangan, sex, pekerjaan, atau waktu yang disisihkan untuk bersama. Kedua, kekuatan digunakan untuk membuat proses keputusan bersama bagaimana pasangan tersebut menyisihkan hal – hal yang penting.
Agency adalah hal yang sangat unik. Oleh karena itu, banyak orang selalu ingin merubah pasangannya agarlebih sopan dan lebih baik.
Dominance dapat dikataan oleh bagaimana salah seorang dari pasangan tersebut melakukan “one – up” messages (akan dijelaskan kemudian). Biasanya dilakukan denagn komunikasi verbal atau secara langsung.
Social influence adalah bagaimana seseorang merubah emosi, kesopanan pasangannya. Kadang social influence ini adalah hasil dari strategi komunikasi.
Power principles


1. Power as a Perception
Objective power kekuaan yang digunakan oleh orang yang lebih berkuasa seperti posisi, kekuatan, senjata, dan lain – lain.
2. Power as a Relational Concept
Kekuatan adalah konsep dari suatu hubungan. Adanya orang yang lebih empunyai power pasti disampingnya (pasangannya) mempunyai kekuatan yang lebih rendah darinya. Relative power adalah orang yang mendominasi dari kekuatan tersebut terhadap pasangan

3. Power as Resource Based
Kekuatan dalam suatu pasangan ddapat dilihat seberapa kekuatan masing – masing hubungan tersebut. Kebanyakan orang yang lebih banyak uang dan social standing lebih mempunyai kekuatan. Di dalam hubungan gay kekuatan tersebut lebih banyak dikuasai pasangan yang lebih tua dan di dalam hubungan lesbian bnyak dikuasai oleh pasangan yang mengahsilkan uang lebih banyak.
Scarcity hypothesis adalah orang yang mempunyai kekuatan lebih dapat melakukan hal sebaliknya apabila mereka menemukan seseoang dalam situasi tertentu.
Dalam hal ini, uang dan kedudukan mungkin saja dapat mempengaruhi seseorag, tapi di sebagian orang, orang yang mempunya tingkat religi yang tinggi dan mementingkan keluarga lebih mempunyai power lebih besar.
4. Power as Less Dependence and Interest
Dependence power digunakan untuk melakukan alternative pada orang. Quality of alternative digunakan untuk hubungan yang mempunyai hubungan yang lebih banyak mempunyai ketertarikan ketimbang pasangannya. Principle of least interest adalah pada saat salah satu pasangan mempunyai perasaan yang lebih besar ketimbang salah satu pasangannya tersebut. Hal ini akan menyebabkan pasangan yang mempunyai perasaan lebih itu mendapatkan kerugian karena pasangannya secara tak sengaja mempunyai yang lebih besar.
5. Power as Enabling or Disabling
Dalam penelitian disebutkan bahwa laki – laki yang mempunyai kekuatan yang lebih besar mempunyai problem yang lebih besar dalah hubungan percintaan. Lelaki maupun wanita yang mempunyai kekuatan yang lebih besar pula lebih tidak membutuhkan teman dekat.

Chilling effect adalah kegiatan yang dilakukan pasangan yang tidak mempunyai kekuatan dalam hubungannya. Pertama, biasanya dilakukan oleh hubungan yang tidak berkomitmen. Kedua, pasangan yang takut kehilangan hubungan tersebut akan merespon problem hubungannya dengan mengalah dan memperbaiki kesalahannya. Ketiga, dengan tidak merespon apa yang pasangan inginkan.
Demand – withdrawal pattern terjadi apabila salah satu orang menjadi mempunyai perasaan bersalah terhadap pasangannya.
6. Power as a Prerogative
Power as a prerogative dapat memanage komunikai verbal sekaligus komunikasi non verbal. Orang yang lebih berkuasa bisa membuat percakapan, mengganti topic percakapan, menyanggah sesuatu yang tidak mereka sukai.

Interpersonal Influence Goals
Making Lifestyle Changes
Dalam suatu hubungan, tidak hanya di hubungan percintaan, tapi juga dapat di hubungan pertemanan, keluarga dan sebagainya. Mengajak orang tersebut untuk mengikuti cara berpakaian dia, memberitahu mana yang baik dan mana yang buruk, dan masih banyak lagi.
Gaining Assistance
Dalam berhubungan, kita dapat mempunyai teman untuk membantu dalam melakukan slah satu pekerjaan kita.
Sharing Activities
Hubungan yang baik adalah bagaimana kita membagi waktu dan jangkauan terhadap pasangan. Dengan meluangkan waktu bersama, bermain bersama.
Changing Political Attitudes
Mengajak orang terdekat untuk mengikuti standart politik mereka. Karena setiap orag mempunyai standart politik dan idealisme politik yang berbeda – beda.

Giving Health Advice
Dengan melakukan hubungan yang intim tidak saja hubungan percintaan kita dapat membantu patner kita dalam menyelesaikan permasalahan kesehatannya. Kita dapat mengingatkan minum vitamin sebagai missal kepada pasangan kita.
Changing Relationship
Menggunakan kata – kata “kita hanya seorang teman” kepada teman dekat agar tidak menjadi hubungan yang serius. Hal ini dikarenakan karena salah satu pasangan mempunyai traumatis yang berlebihan terhadap suatu hubungan. Dia pernah melihat teman pacarnya beselingkuh dan dia bingung untuk mengatakan kepada temannya tersebut mungkin saja.

Verbal Power Ploys
Verbal Influence Strategies
Direct request ( request atau asking) adalah strategi yang paling baik digunakan dalam suatu hubungan. Karena didalamnya terdapat respect terhadap sesama dan kedekatan. Dengan adanya direct request ini timbulnya suatu masalah sangat kecil karena semua hal dibicarakan secara baik – baik.
Bargaining adalah orang tersebut akan setuju denagn apa yang mereka minta namun pasangan tersebut harus melakukan apa yang dia minta terlebih dahulu. Bargaining ini juga dapat disebut dengan janji.
Aversive stimulation atau biasa disebut negative affect strategy karena dalam menyelesaikan masalah dalam hubungan pasangan tersebut melakukan hal yang bersifat kekanak – kanakan, seperti menagis, pura – pura marah, dan sebagainya.
Ingratiation atau positive affect (kebalikan dari aversive stimulation) adalah menyelesaikan masalah dengan memberikan sesuatu kepada pasangan agar pasangan tersebut mau menerima apa yang dia mau (banyakdilakukan apabila ingin meminta maaf). Hal ini bukanlah manipulasi tapi lebih kepada kejujuran seseorang dan sesuatu yang diberikan tersebut hnya merupakan pelengkap saja.

Hinting atau indirect request adalah cara secara tidak langsung untuk meminta sesuatu kepda pasangan kita Bisa jdi hal ini merupakan yang sangat sopan, tapi apabila pasangan kita tidak tahu mengenai hal yang kita ingnkan melalui hinting ini, maka semua rencana akan gagal.
Moral Appeals dibagi menjadi dua  positif altercasting dan negative altercasting. Kita dapat mengunakan positif altercasting apabila orang yang berlawana mempunyai moral yang baik, sedngkan kita dapat menggunakan negative altercasting apabila orang tersebut mempunyai reputasi atau pendidikan yang kurang.
Manipulation adalah membuat pasangan merasa bersalah, cemburu agar pasangan tersebut mngerti apa yang dia mau. Hal ini seperti membalas perlakuan pasangan kita.
Withdrawal adalah cara dengan cara mengacuhkan pasangan kita karena pasangan kita tidak mengerti apa yang mereka inginkan. Strategi ini tidak semuanya dapat berjalan lancarmalah dapat juga tidak berhasil. Dan hal terjeleklnya adalah pasangan kita malah mengacuhkan dan menjauh dari kita.
Deception adalah berbohong kepada pasangan dengan membuat janji – janji palsu.
Distributive communication bisa disebut juga bullying adalah menyakiti diri agar pasangan kita menyetuui apa yang kita inginkan.
Threats adalah berpura – pura melakukan hal yang “bodoh” atau sesutau yang berbahaya agar apa yang kita inginkan tercapai.

Relational Control Moves :
One-ups and one-down
One-ups message adalah suatu pesan yang diberikan dan mengontrol kepada seseorang.
One-down message adalah menerima pesan yang diberikan oleh one-ups message.
One across message adalah pesan netrl yang tidak memberikan statement. Bisa jadi menerina atau menolak pesan tersebut.
Dengan melihat hal diatas, kita dapat mengetahui adanya beberapa percakapan yang natural dalam suatu hubungan. Ini sering disebut transact.
• Complementary  dalam suatu percakapan cenderung hanya satu orang yang menggunakan one-up message atau one-down message.
• Symmetrical  pada saat suatu pasangan menggunakan control moves (one-up message dan one-down message) secara bersamaan
 Competitive symmetry  dalam percakapan menggunakan one-up seluruhnya
 Submissive symmetry  dalam percakapan menggunakan one-dowm seluruhnya

• Neutral symmetry  dalam suatu percakapan menggunakan one-across saja
• Transition  kombinasi percakapan yang digunakan dari one across terhadap one-up dan one-down

Powerful and Powerless Speech
Dalam suatu hubungan terdapat salah satu pasangan yang mendominasi pembicaraan. Kadang laki – laki yang lebih mendominasi tetapi tidak menutup kemungkinan perempuan juga dapat mendominsai suatu percakapan dalam berhunbungan. Laki – laki sering menggunakan komunikasi langsung sedangkan wanita lebih sering menggunakan komunikasi tidak langung.
Seperti yang sudah disinggung diatas, wanita juga dapat lebih berkuasa dalamvisual z suatu hubungan apabila suatu hubungan itu membicarakan traditional females topic seperti, megurus anak dan memasak. Sedangkan lagi juga dapat berkuasa apabila dalam hubungan tersebut membicarakan traditional male topics seperti otomotif dan sebagainya.

Nonverbal Positions of Power
Physical Appearance
Disebut juga dengan tampilan orang. Formal, fashionable, baju mahal dapat dilihat dari physical appearancenya. Tidak hanya itum, seragam juga dapat terlihat apakah orang tersebut mempunyai power yang lebih atau tidak. Tidak hanya terlihat mealui penampilan luarnya saja tetapidalam kedudukan atau jabatan orang tersebut.
Spatial Behavior
Kekuasri jaeak dan kedekataan dilihat dari jarak seseorang terhadap orang lain.
Eye Behavior
Visual centrality  orang yang mepunyai kedudukan yang lebih tinggi atau lebh powerfull lebih dilihat oleh orang
Body Movements
Gerak badan juga dapat dilihat dari status social dominantnya. Seperti tangan yang diletakkan di pinggang. Sebaliknya orang yang mempunyai status social rendah lebih menampakkan ketakukan dan kesedihan.
Touch
Sentuhan dapat mengontrol suatu interaksi. Dalam casual dater (hubungan yang biasa – biasa) laki – laki lebih banyak melakukan sentuhan kepada pasangnnya karena norma – norma social yang berlaku. Sedangkan didalah hubungan pernikahan, wania yang lebh banyk melakukan sentuhan kepada laki – laki atau lawan jenisnya.
The Voice
Meskipun konten dari suara dalah sebagaian dari komunikai langsung, tapi dibahasan ini membicarakan tentang intonasi dari suara tersebut (komuniki tidak langsung). Komunikasi ini dapat disebut vocalics atau paralinguistics.
Kelas yang lebih tinggi mempunyai intonai suara yang lebih keras dan lantang, artikulsi kuat (dominant), dan lebih ekspresif. Sedangkan kelas yang lebih rendah dalam suatu hubungan dapat dikatakan sebaliknya.

Time
Waktu sangat mempengaruhi perilaku suatu hubungan bagaimana pasangan tersebut powerfull atau dominant terhadap pasangan lainnya.
Artifacts
Adalah symbol yang diberikan atau dipunyai seseorang dapat terlihat dari status orang tersebut.

Coping With Conflict
When Relational Partner Disagree
Conflict in Relationship
Suatu konflik dapat terjai bagaimana hubungan terebut dekat atau tidak dan setiap konflik terjadi berbeda – beda konteks tergantung dengan kedekatan suatu hubungan tersebut. Family relationship (anak, bapak, ibu) mempunyai tingkat yang lebih tingi untuk melakukan konflik karena kedekatan mereka karena konflik lebih banyak ditemukan di hubungan yang berkomiten dan independent. Didalam bab ini dikatakan bahwa konflik meruapakan hal yang biasa dalam suatu hubungan.

MESSAGE AND CONVERSATION

The Conversation Proces
• Opening adalah salah satu tahap untuk membuka suatu percakapan. Pembukaan disini menggabungkan antara dua orang atau lebih untuk menghasilkan suatu interaksi. Dalam pembukaan dapat terjadi melalui komunikais verbal, maupun komunikais non verbal.
• Feedforward adalah memberikan ide untuk memulai suatu focus dari percakapan
• Business adalah hal yang paling utama dalam suatu percakapan. Percakapan dapat berhasil atau mendapatkan timbal balik tergantung tergantung di tahap ini.
• Feedback Di tahap ini dimana kita memberikan umpan balik bahwa kita peduli terhadap suatu pembicaraan orang tersebut yang memberikan informasi.
• Closing adalah penutup dari suatu conversation

Conversation management
Initianing conversation


• Self – references adalah cara memberikan suatu informasi terhadap diri sendiri.
• Other – references adalah menanyakan suatu pertanyaan yang akan dijawab oleh orag lain atau berkata sesuatu tentag orang lain.
• Relational references adalah memberikan suatu penyataan atau pertanyaan tentang kamu dan aku.
• Context references adalah BINGUNG

Cara lain untuk memulai suatu percakapan adalah dengan cara Opening line
• Cute – flippan openers : memulai suatu percakapan dengan kata – kata humor, kalimat tak langsung, dan ambigu. Dengan cute – flippan, komunikasi akan lebih terbuka karena lebih telihat informal dan sntai dalam memulai percakapan.
• Innocuous openers : memulai percakapan tidak dengan humor tetapi langsung dengan memulai percapakapan yang lebih ambigu dan basa – basi.
• Direct openers : dalam memulai suatu percakapan ini, seseorang memulainya tanpa basa – basi dan langsung mengarah kearah pembicaran.

Maintaining conversation
The principle of coorperation

• The maxim of quantity adalah suatu percakapan yang dikatakan tidak boleh terlalu banyk dan dilebih – lebihkan.
• The maxim of quality adalah dalam melakukan suatu percakapan diharapkan harus berkata denagn jujur dan jangan menyampaiakan suatu yang salah
• The maxim of relation adalah dalam pembicarakan suatu percakapan harus masuk akal dan relevan. Agar conversation menjadi awet
• The maxim of manner adalah suatu prcakapan harus diberikan secara lugas, jelas, tidak ambigu agar orang yang mendengarkan percakapan kita mngerti apa yang kita ucapkan.

The principle of dialogue adalah kecenderungan kita pada saat berkomunikasi dengan orang lain. Kadang kita memberikan pernyataa langsung secara negative dan kadang pula dengan cara yang negative.
Monologue adalah bentuk komunikasi yang tidak ada interkasi nyata diantara komunikator dan komunikan. Sedangkan dialogue adalah bentuk komunikasi yang terjadi karena sudah ada keerkaitan antara komunikator dan komunikan.Adanya interkasi dua arah.

The principle of turn taking
1. speaker cues
• turn – maintaining cues adalah sinyal – sinyal pada saat pendengar ingin berbicara
• turn – yielding cues adalah memberikan suatu tanda bahwa kita sudah selesai dengan percakapan dan berharap pembicar yang lain memulai suatu pembicaraan
2. Listener cues
• Turn – requesting adalah dimana pendengar ingin berbicara dengan memberikan suatu tanda kepada pembicara.
• Back – channeling cues adalah tanda – tanda yang ditunjukkan pendengar kepada pembicara bahwa pembicara mendengarkan dan akan memberikan respon kepada pembicara.

Conversation problems : prevention and repair
Preventing conversational problems : the disclaimer
Adalah suatu statement yang bertujuan agar pesan tersebut dapat dipahami tapi tidak menimbulan kesan negative terhadap orang yang memberi statement tersebut.
• Hedging adalah akan membantu anda untuk terpisah dari pesan yang anda berikan meskipun pendengar akan menolak pesan tersebut tetapi pendengar tidak akan menolak anda.
• Credentialing membantu pembicara untuk memberikan kualifikasi special dalam memberikan informasi kepada orang lain agar tidak sepenuhnya disalahkan.
• Sin licences adalah menanyakan kepada pendengar bahwa pembicara akan menyimpang suatu topic dari pembicaraan tersebut.
• Cognitive disclaimers membantu pembicara untuk membuat alasan selogic mungkin terhadap pendengar.
• Appeals for the suspension of judgement memberikan informasi kepada pendenagr bahwa pembicara akan memberikan informasi dan pembicara meminta untuk tidak memberikan tuduhan sebelum nformasi tersebut selesai.

Some motives for excuse making
• I didn’t to do it adalah menolak suatu informasi yang diberitakan. I didn’t to do it merupakan excuses yang sangat jelek karena I didn’t to do it merupakan permintaan yang tidak jujur kepada orang lain.
• I wasn’t so bad adalah memberikan statement yang tidak terlalu melebih lebihkan padahal mungkin saja hal itu sangat fatal.
• Yes, but adalah memberikan suatu informasi kepada orang tapi dengan informasi yang berbeda. Tidak secara langsung diberikan.

Good and bad excuses
good excuses adalah menghindar dari pihak lain, sedangkan bad excuses lebih menyalahkan pihak lain padahal sebenarnya kesalahan ada pada kita. 5 element yang terkandung dalam excuse yang baik :
• Pembicara paham bahwa dia sangat mengerti akan kesalahan tersebut dan orang lain akan merasa diakui terhadap pembicara.
• Menyadari tanggung jawabmu terhadap kesalahan tersebut.
• Menyadari bahwa ada perasaan menyesal terhadap perlakuan tersebut.
• Meminta maaf atas apa yang dilakukan. Sebaiknya denagn cara yang explicit
• Menegaskan bahwa kejadian itu tiak akan terulang lagi.

Gossip and the grapevine
Gossip adalah pembicaraan social yang melibatkan mngevaluasian terhdap orang lain yang orang tersebut tidak ada di depan kita.
The grapevine adalah tidak jauh beda dengan pengertin gossip, tapi di grapevive tersebut lebih difokuskan pada suatu organisasi