TEAMWORK, PARTISIPASI, DAN DEMOKRASI DI TEMPAT KERJA

I. EMPLOYEE PARTICIPATION

Employee participation adalah pemberian kesempatan yang dilakukan perusahaan kepada karyawannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan tertentu demi tercapainya tujuan perusahaan.
Secara operasional, employee participation dapat dibagi menjadi dua kategori utama : financial dan work-related participation.
a. Financial Participation
Kategori financial participation terdiri dari dua pendekatan. Pendekatan pertama melibatkan distribusi saham pada karyawan berdasarkan asumsi bahwa kepemilikan saham mengakibatkan perilaku positif pada karyawan.
Di Inggris, pendekatan ini dapat diklasifikan menjadi dua hal, yang satu dimana karyawan ditawarkan menjadi pemegang saham sebagai bagian dari gajinya dan kedua dimana karyawan memiliki pilihan untuk membeli saham dari perusahaannya sendiri.


Hal pertama muncul pada 1978 dan disebut program “deferred share trust” (ADST) dimana perusahaan mendistribusikan saham berdasarkan sistem kontrak kepada karyawan full-time dengan kriteria tertentu. Sementara itu untuk yang kedua muncul pada 1980, memperbolehkan karyawan membeli saham perusahaan tempat mereka bekerja dalam kurs yang menguntungkan melalui institusi Inland Revenue yang dapat dipercaya. Kedua hal ini telah meningkatkan perusahaan secara finansial dan telah meluas kepada karyawan part-time.
Partisipasi finansial yang kedua adalah fleksibilitas dalam pembayaran, dimana elemen gaji bervariasi dengan berbagai insentif. Salah satu contoh dari hal ini adalah cash-based-profit-related pay (PRP) dimana pembebasan pajak penghasilan ditawarkan kepada karyawan. Sebanyak 14.500 karyawan di Inggris telah melakukan hal ini pada 1997 dengan pembebasan pajak terhitung sebanyak £1,5 milyar. Akan tetapi, kehilangan pajak sebanyak itu membuat pemerintah pada akhirnya menghilangkan kebebasan pajak ini.
b. Work-related participation
Work-related participation terdiri dari partisipasi individu dan kolektif, serta langsung (baca: face to face) atau tidak langsung (baca: via perwakilan). Hal ini bisa dikelompokkan dalam dua tipe utama work-related participation: traditional collective participation, yang bertujuan untuk mendistribusikan kekuasaan secara adil dalam perusahaan dan the ‘new’ form of participation, yang lebih langsung dan individualis serta mempunyai kecenderungan untuk dikembangkan dalam strategi manajemen.
Sederhananya, traditional collective participation dapat diartikan sebagai kerja sama, dimana partisipasi melibatkan baik dari pihak pemilik dan elemen pengontrol (Pencavel, 2001).
Yang kedua adalah the ‘new’ form of participation, yang dilakukan secara langsung. Kebanyakan bentuk ini berhubungan dengan keterlibatan atau pemberian kekuasaan pada karyawan. Bentuk partisipasi langsung ini telah menjadi lebih penting untuk mendapatkan komitmen secara sukarela dari karyawan demi tercapainya kesuksesan perusahaan (Walton, 1985).

Contoh :
Dalam the new form of participation, karyawan diberi kewenangan untuk ‘berkuasa’ di kantor. Ini terwujud dalam promosi-promosi dalam berbagai jenjang jabatan, misalnya dari staf biasa menjadi manajer. Dengan memberi kewenangan tertentu pada karyawan yang kompeten, maka karyawan yang bersangkutan akan merasa memiliki tanggungjawab terhadap perusahaan sehingga menunjukkan performa yang sebaik-baiknya. Karyawan tersebut juga akan bertambah loyalitasnya pada perusahaan.

II. TEAMWORK

Teamwork adalah kumpulan individu yang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan, dimana mereka memiliki aturan dan mekanisme kerja yang jelas serta saling tergantung antara satu dengan yang lain.
Oleh karena itu sekumpulan orang yang bekerja dalam satu ruangan, bahkan didalam satu proyek, belum tentu merupakan sebuah teamwork. Terlebih lagi jika kelompok tersebut dikelola secara otoriter, timbul faksi-faksi di dalamnya, dan minimnya interaksi antar anggota kelompok.

Indikator Perilaku Teamwork

-1. Tidak mau bekerjasama (uncooperative)
Menolak bekerja sama, menimbulkan masalah.

0. Netral
Tidak berpartisipasi. Tidak menjadi anggota tim manapun.

1. Bekerjasama
• Berpartisipasi, anggota kelompok yang baik dan melakukan tugas/bagiannya.
• Mendukung keputusan kelompok.
• Sebagai anggota kelompok, mengupayakan agar anggota lain mendapat informasi yang relevan dan bermanfaat, misalnya informasi tentang proses kelompok, tindakan individual, atau hal-hal yang penting.

2. Mengungkapkan harapan yang positif
• Menyatakan harapan yang positif tentang orang lain dalam hal kemampuan, peran yang diharapkan, dan sebagainya.
• Membicarakan anggota kelompok secara positif.
• Menghargai hasil yang dicapai oleh kelompok.

3. Menghargai masukan
• Menghargai masukan dan keahlian orang lain.
• Mau belajar dari orang lain (termasuk dari bawahan dan teman sejawat).
• Meminta ide dan pendapat kepada semua anggota kelompok untuk membantu membuat keputusan.
• Mendorong kerjasama kelompok.

4. Memberikan dorongan
• Secara terbuka memberi pujian kepada orang yang berkinerja baik.
• Mendorong dan memberdayakan orang lain.
• Membuat orang lain merasa kuat dan penting.

5. Membangun semangat kelompok
• Bertindak untuk menciptakan suasana kerjasama yang akrab dan moral kerja yang baik dalam kelompok (misalnya menciptakan simbol identitas kelompok).
• Menyelesaikan perselisihan yang terjadi dalam kelompok.
• Melindungi/mempromosikan reputasi kelompok.

Secara umum perkembangan suatu team dapat dibagi dalam 4 tahap:
1. Forming, adalah tahapan dimana para anggota setuju untuk bergabung dalam suatu team. Karena kelompok baru dibentuk maka setiap orang membawa nilai-nilai, pendapat dan cara kerja sendiri-sendiri. Konflik sangat jarang terjadi, setiap orang masih sungkan, malu-malu, bahkan seringkali ada anggota yang merasa gugup. Kelompok cenderung belum dapat memilih pemimpin (kecuali team yang sudah dipilih ketua kelompoknya terlebih dahulu).
2. Storming, adalah tahapan dimana kekacauan mulai timbul di dalam team. Pemimpin yang telah dipilih seringkali dipertanyakan kemampuannya dan anggota kelompok tidak ragu-ragu untuk mengganti pemimpin yang dinilai tidak mampu. Faksi-faksi mulai terbentuk, terjadi pertentangan karena masalah-masalah pribadi, semua ngotot dengan pendapat masing-masing. Komunikasi yang terjadi sangat sedikit karena masing-masing orang tidak mau lagi menjadi pendengar dan sebagian lagi tidak mau berbicara secara terbuka.
3. Norming, adalah tahapan dimana individu-individu dan sub-group yang ada dalam team mulai merasakan keuntungan bekerja bersama dan berjuang untuk menghindari team tersebut dari kehancuran (bubar). Karena semangat kerjasama sudah mulai timbul, setiap anggota mulai merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya kepada seluruh anggota team. Selain itu semua orang mulai mau menjadi pendengar yang baik. Mekanisme kerja dan aturan-aturan main ditetapkan dan ditaati seluruh anggota.
4. Performing. Tahapan ini merupakan titik kulminasi dimana team sudah berhasil membangun system yang memungkinkannya untuk dapat bekerja secara produktif dan efisien. Pada tahap ini keberhasilan team akan terlihat dari prestasi yang ditunjukkan.

Contoh :
Seorang CEO atau presiden tidak bekerja dalam vakum, tidak sendirian. Ia bisa saja seorang biasa dengan segala kekurangannya. Tetapi ia bisa saja berhasil kalau ia memiliki komitmen dengan dukungan team yang sama-sama punya komitmen kuat. Maka yang masih bisa mereka “jual” nanti bukan lagi figur masing-masing calon (personality ethic), melainkan team yang akan mereka bawa.
Hubungan interpersonal menjadi sangat penting karena hal ini akan merupakan dasar terciptanya keterbukaan dan komunikasi langsung serta dukungan antara sesama anggota team.
Ketika bekerja semua orang akan terlihat formal, serious, important, necessary, technical, dan administrative.
Namun ketika ada kegiatan (perayaan) maka karakternya berubah menjadi relax, happy, and look at each other as fellow humans bound together by a common purpose.

III. SUPERVISION VS FACILITATION

Supervision (Pengawasan)

“Supervisions is the abilities of the supervisor to provide technical assistance and behavioral support” (Luthans, 2002,p321).

Artinya pengawasan adalah kemampuan pengawasan untuk menyediakan bantuan teknis dan dukungan dalam perilaku. Supervisions berhubungan erat dengan leadership skills. Dalam penelitiannya Luthans menyatakan adanya gaya-gaya kepemimpinan yang dapat mempengaruhi kepuasan karyawan. Dengan adanya gaya kepemimpinan yang tepat dari supervisor diharapkan dapat menciptakan adanya kepuasan karyawan.
Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut : Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment). Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.
Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, inspeksi lebih menekankan kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi lebih menekankan kepada persahabatan yang dilandasi oleh pemberian pelayanan dan kerjasama yang lebih baik diantara rekan kerja, karena bersifat demokratis. Istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan baik menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu (semantik).

Definisi supervisi dari berbagai sudut pandang :
1. Etimologi
Istilah supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris Supervision artinya pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.
2. Morfologis
Supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya. Supervisi terdiri dari dua kata.Super berarti atas, lebih. Visi berarti lihat, tilik, awasi. Seorang supervisor memang mempunyai posisi diatas atau mempunyai kedudukan yang lebih dari orang yang disupervisinya.
3. Semantik
Pada hakekatnya isi yang terandung dalam definisi yang rumusanya tentang sesuatu tergantung dari orang yang mendefinisikan.

Contoh :
Ketika seorang karyawan bekerja dalam sebuah team, maka dalam sebuah team tersebut pasti ada yang menjadi seorang leader, leader dalam kelompok ini merupakan orang yang dianggap lebih berpengalaman dari segi ilmu maupun segi jenjang karier. Kemudian leader tersebut dakan mengawasi pekerjaan yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Dalam melakukan pengawasan, supervisor sering kali harus selalu berhubungan dengan orang-orang yang diawasi, sehingga orang tersebut merasa lebih akrab dan merasa lebih dianggap. Sehingga dalam kegiatan supervisi, supervisor dan bawahan akan lebih merasa bersahabat. Karena mereka akan menjadi sangat akrab.

Facilitation
Memfasilitasi berasal dari kata bahasa Inggris facilitation yang akar katanya berasal dari bahasa Latin facilis yang mempunyai arti “membuat sesuatu menjadi mudah”. Dalam Oxford Dictionary disebutkan : to render easier, to promote, to help forward; to free from difficulties and obstacles. Secara umum pengertian facilitation (fasilitasi) dapat diartikan sebagai suatu proses “mempermudah” sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Dapat pula diartikan sebagai “melayani dan memperlancar aktivitas belajar peserta pelatihan untuk mencapai tujuan berdasarkan pengalaman”. Sedangkan orang yang “mempermudah” disebut dengan “Fasilitator” (Pemandu).

Nilai-nilai Dalam Memfasilitasi
• Demokrasi : Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut ambil bagian dalam proses belajar dimana dia menjadi peserta tanpa prasangka; perencanaan untuk pertemuan apa saja terbuka luas dan dilakukan secara bersama-sama oleh fasilitator dan para peserta; agenda dirancang untuk memenuhi kebutuhan para peserta dan terbuka terhadap perubahan-perubahan para peserta; dan untuk jangka waktu selama fasilitator bekerja dengan mereka itu, tidak ada struktrur organisasi secara hirarkis yang berfungsi.
• Tanggung Jawab : Setiap orang bertanggungjawab atas kehidupannya masing-masing, pengalaman-pengalaman dan tingkah lakunya sendiri. Hal ini mencakup pula pada tanggungjawab atas partisipasi seseorang di dalam sebuah pertemuan atau pelatihan. Sebagai fasilitator, bertanggungjawab terhadap rencana yang sudah dibuat, apa yang dilakukan, dan bagaimana hal ini membawa pengaruh pada isi, partisipasi dan proses pada pembahasan itu. Fasilitator juga bertanggungjawab atas dirinya sendiri dan apa yang terjadi pada fasilitator. Fasilitator harus sensitif terhadap bagaimana dan seberapa besar para peserta bersedia dan mampu memikul tanggungjawab pada setiap pertemuan atau pelatihan. Melalui pengalaman, para peserta dapat belajar memikul tanggungjawab yang semakin besar.
• Kerjasama : Fasilitator dan para peserta bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama mereka. Orang mungkin akan mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang dilakukan oleh seseorang terhadap sebuah kelompok. Sedangkan fasilitasi / memandu adalah sesuatu yang dilakukan oleh seseorang bersama dengan sebuah kelompok.
• Kejujuran : Fasilitator mewakili secara jujur nilai-nilai dirinya sendiri, perasaan, keprihatinan dan prioritas dalam bekerja bersama seluruh peserta pelatihan, dan fasilitator seharusnya menentukan suasana bagi suatu harapan akan kejujuran dari seluruh peserta. Ini juga berarti bahwa fasilitator harus jujur dengan dan terhadap peserta dan terhadap dirinya sendiri menyangkut apa saja yang mejadi kemampuan fasilitator. Fasilitator harus mewakili dirinya sendiri secara adil dan tidak berusaha untuk berbuat terlalu jauh melampaui kemampuannya sendiri dalam peranan sebagai fasilitator.
• Kesamaan Derajat : Setiap anggota mempunyai sesuatu yang dapat disumbangkan pada peserta pelatihan dan perlu diberikan kesempatan yang adil untuk melakukan hal itu; Fasilitator menyadari bahwa dia dapat belajar dari para peserta sebesar apa yang mereka bisa pelajari dari fasilitator. Pada saat yang sama, setiap peserta mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan untuk tidak ikut ambil bagian pada pokok bahasan tertentu dalam suatu pertemuan atau pelatihan.

Fungsi dan Peranan Fasilitator Pekerjaan
Fungsi dan peranan seorang fasilitator ialah memusatkan perhatian pada seberapa baik peserta pelatihan bekerjasama. Tujuan dan fokus ini ialah untuk memastikan bahwa peserta sebuah pelatihan dapat mencapai tujuan mereka dalam pelatihan tersebut.
Fasilitator percaya bahwa masing-masing peserta pelatihan dapat memikul tanggungjawab bersama atas apa yang terjadi, antara lain:
• memanggil para peserta untuk mengingatkan mereka akan jadwal pertemuan berikutnya
• menjamin bahwa setiap peserta mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan pada sebuah diskusi
• meninjau dan mengetahui bahwa agenda yang disusun bertujuan untuk melayani tujuan dan kepentingan peserta pelatihan dan pelatihan itu sendiri.

Akibat pembagian bersama ini yaitu bisa menyamaratakan tanggungjawab atas keberhasilan atau kegagalan suatu pelatihan dan memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang untuk melakukan pengawasan dalam menentukan apa yang yang terjadi dalam sebuah pelatihan dan keputusan-keputusan apa yang diambil.
Seorang fasilitator dapat memenuhi berbagai jenis kebutuhan yang berbeda dalam bekerja dengan peserta pelatihan. Hal ini ditentukan oleh tujuan peserta pelatihan untuk datang dan berkumpul bersama dan segala sesuatu yang diharapkan dari individu yang akan bertindak sebagai fasilitator.

Contoh dalam Facilitation
Sebagai contoh, anda sudah diminta untuk memberikan presentasi mengenai bidang keahlian anda (misalnya perencanaan regional) kepada sebuah kelompok yang terdiri dari masyarakat yang berminat. Tujuan dari pertemuan itu adalah semata-mata hanya bersifat memberikan informasi.
Sebagai nara sumber, anda bisa mempengaruhi dinamika diskusi melalui cara yang anda pergunakan dalam menyajikan informasi anda, suasana seperti apa yang anda ciptakan dalam kelompok (terbuka atau tertutup, ringan atau berat) dan oleh sikap yang anda tunjukkan kepada orang-orang yang bekerja dengan anda.
Suatu isyarat sangat sederhana tanpa kata-kata – dimana anda duduk – dapat mengakibatkan betapa orang merasa senang dalam suatu diskusi mengikuti presentasi anda. Jika anda duduk pada bagian depan dari ruangan menghadap para hadirin yang duduk berderetan, dan mempunyai sebuah podium di depan anda, anda mempunyai baik jarak dalam ruangan maupun benda penghalang (sebuah obyek tempat berlindung dibaliknya) antara anda sendiri dan anggota kelompok lainnya. Peserta pertemuan kurang mampu menjadi tantangan anda, dan anda terlindung dari upaya mendengarkan apa yang dikatakan peserta.
Sebagai tambahan, perhatian peserta terpusat terutama pada anda, tidak diantara mereka sendiri. Hal ini membuat anda mendapat wewenang yang besar. Pada sisi lain, jika anda dapat duduk diantara para peserta lainnya, dengan mereka berada di sekeliling anda, maka hal ini secara fisik akan menyamakan hubungan dan memudahkan terjadinya proses interaksi. Tujuan dari peranan anda sebagai nara sumber adalah berbagi informasi, dan bukan menempatkan diri anda di atas kelompok sebagai seorang ahli. Dengan memberikan peluang untuk mereka bebas bertanya dan mencoba mendapatkan umpan balik, anda bisa menyelesaikan ini dan, selain itu anda bisa belajar sendiri dari mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Faules, Don F. 2005. Komunikasi Organisasi. Bandung : Remaja Rosda Karya
Muhammad, Arni. 2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara
Employee Participation and Company Performance. http://www.jrf.org.uk/sites/ files/jrf/1859352995.pdf
Kerjasama (TW). http://indosdm.com/kamus-kompetensi-kerjasama-team-work
http://shelmi.files.wordpress.com

One thought on “TEAMWORK, PARTISIPASI, DAN DEMOKRASI DI TEMPAT KERJA

  1. 1.saya sedang mencari buku kamus kompetensi kerjasama(teamwork) dimana sy bs mendapatkannya.
    2. saya mencari buku yang menjelaskan bahwa kerjasama itu=teamwork. dibuku apa saya bisa menemukan jawabanya? trmksh sblmnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s