STRUCTURAL APPROACHES

Marxis Foundations
Meskipun critical theory telah ada sejak waktu yang lama sejak marx, banyak dari itu semua masih didasarkan oleh ajaran marxist. Dalam kenyataannya, satu dari pemikiran terpenting dalam abad ke 20 berdasar pada teory sosial marxist. Berdasarkan ide-ide Karl Marx dan Friedrich Engels, perubahan ini terdiri dari beberapa teori yang berdekatan menentang perintah sosial yang ada di masyarakat. Sebenarnya semua cabang dari ilmu sosial, termasuk komunikasi, telah terpengaruh oleh pemikiran ini.
Marx mengajarkan bahwa penentuan produksi masyarakat berarti masyarakat alami. Ini adalah ide dasar dari marxism, “the base super-structure “ relationship: masalah ekonomi mendasari adanya struktur soosial. Dalam sistem kapital, keuntungan mengendalikan produksi dan kemudian mendominasi buruh.


Kelas pekerja ditekan oleh kelompok kuat untuk menghasilkan keuntungan bagi mereka. Semua lembaga mengabadikan dominasinya dalam masyarakat kapital menjadi mungkin dengan sistem ekonominya. Hanya ketika kelas pekerja memunculkan perlawanan terhadap kelompok dominan dapat mengubah pengertian produksi dan liberalisasi dapat tercapai. Teori klasik ini dinamakan “critique of political economy”.
Sekarang, teori kritik-marxist berkembang pesat, meskipun telah tersebar dan multi teori. Meskipun beberapa teori kritik sekarang mengadopsi dari teori politik-ekonominya marx’s, perhatian dasarnya pada konflik dialectikal, dominasi, dan penindasan. Untuk alasan ini teori kritik sekarang telah terlabel “neo-marxist” atau “marxist”(with lowerchase).
Berlawanan dengan Marx’z simple base-superstructure model, pada jaman sekarang banyak teori kritis memandang proses sosial sebagai “overdetermined”, atau disebabkan oleh banyak sumber. Mereka melihat struktur sosial sebagai sebuah sistem di mana banyak benda berinteraksi dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain)chapter 3).
Teori kritis melihat tugas mereka sebagai perlawanan terhadap penindasan yang terselubung melalui analisis dialektical, di mana ini didesain untuk mengekspose sebuah perjuangan diantara perlawanan penindasan.
Istilah ideologi merupakan sesuatu yang pentinbg dalam teori kritis. Sebua iideologi, merupakan seperangkat dari ide-ide yang terstruktur dalam sebuah realitas grup, sebuah sistem yang mewakili atau arti kode yang menguasai bagaimana individu dan kelompok melihat dunianya. Dalam marxis klasik sebuah ideologi adalah seperangkat kesalahan dari ide-ide perlawanan yang dikeekalkan oleh politik dominan.
Untuk marxis klasik, ilmu harus digunakan untuk memperlihatkan kebenaran dan mengatasi “the false consciousness of ideology”.
Mungkin ideology terbaik yang kita ketahui adalah teori dari French Marxist Louis Althusser. Untuk Althusser, ideologi mempersembahkan dalam struktur sosial itu sendiri dan menimbulkan dari praktek aktual mengerjakan oleh lembaga di dalam masyarakat.
Untuk Althusser, superstruktur ini terdiri dari repressive state apparatuses seperti polisi dan militer dan ideological state apparatuses seperti edukasi, religi, dan media massa.
The Frankfurt School and Universal Pragmatis
Satu yang terlama dan yang dapat kita ketahui dengan baik adalah tradisi Marxist pada Frankfurt School. Frankfurt School adalah seperti sebagai sebuah tradisi penting dalam
Studi kritis yang sering kita namakan dengan kritikal teori. Teori ini didasarkan atas ide pemikiran dari marxist, meskipun telah jauh dari aslinya setelah 50 tahun. Komunikasi mengambil peran penting dalam perubahan ini, dan studi tentang komunikasi massa sangatlah penting.
Brand kritikal teori ini dimulai dengan kerja dari Max Horkheimer, theodor adorno, herbert marcuse, dan kerabatnya di frankfurt institute for social research tahun 1923. Grup ini berpeletak dasar pada prinsip marxist, meskipun mereka tidak pernah menjai anggota partai poliytik, dan hasil kerjanya menyebutkan sebagai akademisi daripada seorang ilmuwan. Para ahli tersebut prihatin terhadap tanda-tanda kegagalan ramalan marxis tentang revolusi perubahan sosial. Untuk menghindarinya, mereka beralih mengandalkan kemampuan superstruktur, terutma dalam wujud media massa, gun menggantikan proses sejarah perubahan ekonomi. Dalam satu segi, tampaknya telah terjadi satu kesalahan sejarah karena ideologi kelas dominan digunakan untuk mempertahankan kekuatan ekonomi melalui proses subversi dan asimilasi kelas pekerja.
Budaya massa yang komersial dan universal merupakan sarana utama yang menunjang tercapainya keberhasilan monopoli modal tersebut. Seluruh sistem produksi barang, jasa dan ide yang diselenggarakan secara massal membuka kemungkinan diterimanya sebagian atau seluruh sistem kapitalisme dengan ketergantungannya pada rasionalitas teknologi, konsumerisme, kesenangan jangka pendek, dan mitos tanpa kelas. Komoditi merupakan alat ideologi utama dalam proses tersebut. Tampaknya seni murni dan bahkan budaya kritik serta perbedaan pendapat pun dapat dipasarkan untuk memperoleh keuntungan, meskipun harus mematikan potensi kritik. Teori frankfurt menekankan depndensi orang dan kelas pada definisi cutra dan poerbedaan pendapat yang berlaku umum dalam sistem keseluruhan.
Habermas berkosenterasi khusus dengan dominasi ketertarikan teknik dalam masyarakat kapital dewasa ini. Habermas dalam teorinya menyebutkan tindakan sebagai universal pragmatics, termasuk di dalamnya principle of language. Dia keluar dari tiga tipe tindakan. Constative atau mempertahankan, didisain untuk mendapatkan preposisi lain adalah benar. Misalnya, jika kamu terlibat dalam perburuhan—percekcokan manajemen, kamu dapat mengadukan permasalahnmu ke praktik perburuhan yang tidak fair.
Terakhir, avowals didisain untuk mengekspresikan kondisi internal pembicara, untuk menguatkan sesuatu tentang seseorang. Dalam negosiasi manajemen perburuhan misalnya, partisipan sering mengungkapkan kemarahnnya yang berlebihan dalam aktivitas partainya.
Lagi, ada bermacam-macam wacana, tergantung dari macam perkataan yang dipertahankan. Klaim yang benar yang bertentangan dengan theoritic discourse di mana menekankan bukti yang nyata. Ketika appropriateness dipertentangkan, practical discourse baru digunakan. Ini adalah norma yang utama/penting.
Sebuah keseimbangan level yang cukup tinggi dari wacana adalahsesuatu yang dibutuhkan—methalical discourse. Di sini, kealamian pengetahuan itu sendiri didalam isi dan harus diperdebatkan. Habermas percaya bahwa kebebasan bicara adalah dibutuhkan untuk produktivitas pada komunikasi normal dan level di atasnya pada wacana yang diambil. Meskipun tidak mungkin untuk dicapai, habermas menjelaskan sebuah ideal speech situation pada masyarakat yang harus dibentuk. Pertama, situasi speech dibutuhkan kebebasan berbicara, tanpa harus dibatasi apa yang diungkapkannya. Kedua, semua individu harus mempunyai akses yang sama untuk berbicara. Dalam kata lainnya, semua pembicara dan posisinya harus terlegitimasi/diakui. Terakhir, norma dan obligasi masyarakat bukan satu sisi tetapi terdistribusi dalam kekuatan yang sama kepada semua strata di masyarakat.

The Poststructural Tradition
Dalam bagian ini kita akan melihat dua teori normal yang berpikiran dalam orientasi poststructural. Itu adalah cultural studies and the work of Michael Foucault. Sebenarnya, itu berbeda sedikit satu sama lain dan mengambil poststructural tradition dalam direksi yang sedikit berbeda.
Cultural studies
Cultural studies melibatkan investigasi bagaimana budaya itu terproduksi melalui sebuah perjuangan diantara ideologi-ideologi. kelompok yang paling terkemuka dari cultural scholars, British Cultural Studies, bergabung dengan the center for Contemporary Cultural Studies at University of Birmingham. Berasal dari tradisi ini biasanya mengikuti jejak dari tulisan Richard Hoggart dan Raymond Williams di tahun 1950, di mana menyelidiki kelas pekerja Inggris setelah PD II. Sekarang, pemimpin perubahan uni adalah Stuart Hall.
Cultural studies tradition adalah menegaskan/membedakan reformasi orientasinya. Para ilmuwan ingin melihat perubahan dalam masyarakat barat, dan pandangan mereka terhadap ilmuwan sebagai sebuah instrumen perjuangan budaya sosial. Mereka percaya bahwa sesuatu perubahan semacam itu akan terjadi dalam dua jalan(1) dengan mengidentifikasi kontradiksi dalam masyarakat, resolusi/ketetapan yang akan memberikan/memimpin positif, sebagai perlawanan terhadap penindasan, perubahan; dan (2) dengan memberikan interpretasi yang akan membantu seseorang mengerti dominasi dan bermacam-macam perubahan yang layak. Samuel Becker mendeskripsikan tujuannya sebagai “suara yang menggelegar (menggelar) diantara keduanya, audiens dan pekerja media berasal dari menjadi terlalu menerima ilusi mereka atau latihan eksisting practices jadi akan bertanya kepada mereka dan kondisinya”
Apa yang diartikan sebagai “culture” dalam cultural studies? Dua definisi yang akan digunakan. Pertama ide utama pada masyarakat atau kelompok yang istirahat, ideologinya, atau kumpulan cara oleh sebuah grup mengerti pengalamannya. Kedua adalah practicees atau seluruh cara dalam hidup grup tersebut—apa yang dilakukan individu tentang suatu materi setiap harinya.
Dalam cultural studies, proses memperkuat pengalaman dari beberapa sumber dinamakan articulasi. Pembagian kita terlihat nyata karena koneksi, atau artikulasi, diantara beberapa sumber verifikasi.
Institusi sosial seperti pendidikan, agama, dan pemerintah adalah saling berhubungan dalam mendukung ideologi dominan, membuat resisten yang sulit. khususnya garis Penting diantara infrastruktur dan superstruktur. Infrastruktur adalah sesuatu yang disebut vsebagai “base”, atau dasar perubahan ekonomi dalam masyarakat, termasuk gedung, sistem moneter, modal, mesin-mesin, dan lainnya. Superstruktur terdiri dari institusi sosial. Itulah tepatnya hubungan diantara infrastruktrur dan superstruktur yang dipermasalhkan.
Teori marxist yang awal mengajarkan bahwa infrasturktur (economic resource base) menentukan superstruktur. Dalam studi cultural, bagaimanapun juga, hubungannya cukup kompleks. Perlawanan masyarakat dianggap sebagai overdetermined, atau disebabkan oleh bnyak sebab.
Michael Foucault
Faucault berpikir sebagai sebuah poststructualis, tetapi nyatanya, tidak mungkin untuk mengklasifikasikan secara teratur. Meskipun dia menolak sebuah struktur bias dalam kerjanya, dia menulis jembatan antara poststructural dan structural tradisi dalam critical theory.
Foucaullts berbicara bahwa setiap waktu mempunyai gambaran yang jelas atau struktur konseptual, yang menyebutkan pengetahuan a;lami dalam waktu itu. Karakter pengetahuan diberikan oleh foucaults disebut episteme atau dis\cursive formation. Pandangan tiap-tiap usia adalah eksklusive dan incompatible dengan visi dari usia lain, membuat ini tidak mungkin buat orang dalam satu waktu seperti yang dipikirkan lainnya.
Foucaults bekerja tertuju pada analisis wacana dalam suatu cara yang menampakkan peraturannya dan strukturnya. Ini dinamakan archeology. Arkeologi mencoba untuk tidak menutup, berpikir mendiskripsikan yang teliti, regulasi wacana. Menjelaskan kesenjangan atau kontradiksi, daripada hubungan dan menunjukkan sebuah kesuksesan dari satu bentuk wacana setelah yang lain. Untuk alasan ini, Foucault menempatkan titik beratnya pada deskripsi komparasi dari lebih satu lembar wacana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s