PATTERN OF CONFLICT INTERACTION

PATTERN OF CONFLICT INTERACTION
1. Negative reciprocity
Pola dimana perilaku agresi akan mengakibatkan perilaku agresi pula. Sekali melakukan agresi, orang lain akan mengikuti. Ada dua alasan mengapa ini terjadi : pertama, seseorang lebih merasakan emosi negatif daripada postif saat terjadi konflik. Kedua, orang merasa bahwa orang lain menunjukkan rasa permusuhan. Ada beberapa taktik yang digunakan, yaitu :


• Gunnysacking
Gunnysacking terjadi ketika orang menimbun keluhan dan melontarkannya pada partnernya saat konflik.
• Kitchensinking
Kitchensinking adalah mengulangi kembali argumentasi lama mereka.
• bringing third party.
Bringing third party terbagi menjadi beberapa cara: pertama,orang mengatakan hal yang dikatakan orang lain sebagai bukti. Kedua, membawa-bawa teman dan keluarga dalam argumentasi, ketiga membandingkan partnernya dengan orang lain.
2. The demand-withdrawal pattern
Terjadi ketika seseorang menggunakan demanding communication agar terjadi konflik, sementara pasangannya memilih menarik diri/tidak menghiraukan. Pasangan yang mengalami hal ini bermasalah dalam punctuation, dimana mereka punctuate penyebab konflik secara berbeda-beda.
3. The four horsemen of the apocalypse
• complain/critism
Dalam complain, ada lima tipe yang mungkin terjadi, yaitu : komplain tentang perilaku, karakteristik, performance, penampilan, dan metacomplain (mengkomplain kebiasaan pasangannya yang suka mengkomplain).
• contept/disgust
disgust adalah tipikal komunikasi yang menimbulkan kesan tidak enak. Contempt adalah cara komunikasi yang negatif.
• Defensiveness
Beberapa perilaku komunikasi yang termasuk defensiveness antara lain : denying responsibility for a problem, issuing countercomplain, whining, making accusiation, dan reading mind. Mind reading terjadi ketika orang berasumsi bahwa mereka tahu tentang perasaan, emosi, motivasi, dan perilaku pasangannya. Mind reading menyalahi dua prinsip fair fighting, yaitu : sering langsung mengambil kesimpulan dan berdasarkan overgeneralization
• Stonewalling
Adalah kegiatan menghindar dari konflik
4. Patterns of accomodation
Ada tiga prinsip yang utama, yaitu : orang punya kecendurungan untuk retaliate ketika dihadapkan pada destructive behavior, akomodasi terjadi ketika orang bisa diperdaya oleh kecenderungan tersebut dan terlibat dalam komunikasi yang kooperatif, dan akomodasi biasanya terjadi pada pasangan yang mempunyai komitmen. Kunci keberhasilan akomodasi adalah positif reciprocity, yaitu keduanya terlibat dalam strategi yang kooperatif

EXPLANATION FOR CONFLICT PATTERNS

1. Emotional flooding
Terjadi ketika seseorang menjadi kaget atas perilaku pasangannya yang negatif. Ketika ini terjadi,biasanya mereka melakukan button pushing, yaitu dengan sengaja mengatakan sesuatu yang menyakitkan pasangannya. Ada juga empty threat, dimana biasanya mereka mengancam akan melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
2. Attribution
Adalah proses perseptual untuk mengetahui alasan atau penyebab dari perilaku seseorang. Ada tiga tipe spesifik dari attribusi, yaitu :
a. people attribute a person behaviour to personal vs situational cause
b. People make attributions about behaviour being stable versus unstable
c. People make attributions about how global versus specific
3. Communication skill deficit
a. Argumentative vs aggresiveness
Argumentative : model konflik yang fokus pada proses argumentasi
Verbal aggresiveness : menyerang konsep diri orang lain dengan tujuan menyakiti orang lain
b. Effective listening:
– Let your partner speak
– Put yourself in your partner place
– Don’t jump into conclusion
– Ask questions
– Paraphrase what your partner says

MANAGING CONFLICT IN RELATIONSHIP
1. Defining interpersonal conflict
a. Expressed disagreement
Konflik eksis hanya jika terjadi disagreement atau tension
b. Interdependence
Hanya orang yang berhubungan dengan orang lain yang berpotensi menimbulkan konflik
c. Felt need to resolve
Hanya konflik yang menurut kita patut diselesaikan yang akan dibahas
2. Principle of conflict
a. Conflict is a natural process in all relationship
Konflik itu normal, tidak dapat dihindarkan dalam setiap hubungan interpersonal
b. Conflict may be overt or covert
Overt conflict : konflik yang terjadi secara eksplisit, sementara covert adalah sebaliknya.
c. Conflict behavior and meaning are shaped by social location
– Culture diffirences regarding conflict
– Differences arising from distint social communities
d. Conflict can be managed well or poorly
Salah satu alasan kenapa konflik ditangani dengan buruk adalah karena sering berkaitan dengan perasaan yang tidak dapat diidentifikasikan/diekspresikan oleh seseorang. Cara mengatasinya adalah mengenali perasaan-masing masing dan memilih cara terbaik untuk mengkomunikasikan perasaan itu.
e. Conflict can be good for individual and relationship
Beberapa manfaat konflik : membuat individual semakin berkembang dan mempererat hubungan, membuat pasangan jadi saling mengerti satu sama lain, dan bisa menerima point of view yang berbeda dari orang lain.
3. Orientations to conflict
a. Lose-lose
Berarti bahwa dalam suatu konflik, semua yang terlibat di situ mengalami ‘kekalahan’. Ini sangat tidak sehat dan merusak hubungan.
b. Win-lose
Berasumsi bahwa salah seorang diantaranya menang, sementara yang lain kalah. Disagreements dianggap sebagai pertempuran yang harus dimenangkan.
c. Win-win
Menyarankan bahwa selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah sehingga semua orang merasa puas.
4. Responses to conflict
a. Exit response
Artinya, orang yang bersangkutan meninggalkan konflik, baik secara fisik maupun psikologis. Biasanya ini terjadi pada konflik yang berorientasi pada lose-lose atau win-lose.
b. Neglect response
Adalah mengurangi masalah, disagreement, kemarahan, tension, dan lain-lain yang bisa berujung pada overt conflict
c. Loyalty response
Berarti mempertahankan komitmen dalam relationship meski ada masalah. Mereka memilih bersikap toleransi terhadap masalah tersebut.
d. Voice response
Sikap siap menghadapi konflik secara langsung dan berusaha menyelesaikannya.
5. Communication patterns during conflict
a. Unproductive conflict communication
– Early stages
Merupakan stage awal, yang bermula dari komunikasi yang gagal menganggap/confirm keberadaan seseorang
– Midde stage
Kitchensinking (lihat penjelasan di atas) termasuk di dalamnya. Ditandai dengan banyaknya interupsi dalam percakapan.
– Later stage
Merupakan stage final dimana terjadi counterproposal atau kecenderungan memenangkan opininya sendiri. Juga terjadi egosentrim dan dogmatism.
b. Constructive conflict communication
– Early stages
Mau mengakui keberadaan orang lain, serta menghargai perasaannya.
– Middle stage
Terjadi agenda building, atau tetap fokus pada isu utama, serta tidak menginterupsi pembicaraan pasangannya.
– Later stage
Stage terakhir yaitu menyelesaikan masalah yang terjadi. Ada contracting, yaitu membangun solusi lewat negosiasi dan menerima ide orang lain. Ada juga counterproposal, atau berlomba agar usulnya diterima. Dalam counterproprosal, terjadi orientasi win-lose, jadi lebih baik menggunakan contracting
c. Conflict management skills
Ada 8 conflict management skill spesifik yang dapat menyebabkan komunikasi interpersonal yang efektif :
– Attend to relationship level of meaning
– Communicate supportively
– Listen mindfully
– Take responsibility for your thoughts, feeling, and issue
– Check perception
– Look for points of agreement
– Look for ways to preserve the other’s face
– Imagine how you’ll feel in the future
6. Guideliness for effective communication during conflict
a. Focus on the overall communication system
Karena komunikasi sifatnya sistemik, maka kita dapat mengira-ngira bagaimana kita akan menghadapi sebuah konflik dengan mengamati sistem yang berjalan dalam hubungan kita
b. Time conflict effectively
Tiga cara untuk membuat manajemen konflik menjadi efektif : jangan berkonflik dengan orang yang sedang tidak fit; kalau ingin berdiskusi, pilih waktu saat kedua pihak sudah siap berdiskusi; lalu yang ketiga adalah bracketing atau fokus pada problem utama.
c. Aim for win-win conflict
Apabila konflik terjadi pada dua orang yang saling menyayangi, maka buatlah hasil akhir konflik itu win-win oriented.
d. Honor yourself, your partner and the relationship
Tidak mungkin terjadi komunikasi yang efektif jika kita tidak menghargai partner kita, atau diri kita sendiri
e. Show grace when appropriate
Grace : memaafkan orang lain atau mengesampingkan kebutuhan kita kalau tidak ada peraturan yang mengharuskan demikian. Grace bisa memadamkan kemarahan, emosi, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s