GETTING ALONG WITH THE IN-LAWS RELATIONSHIP WITH PARENTS IN-LAW

• Defining the relationship with Parents in Law
Ada banyak humor, stereotype negatif, dan cerita horror tentang mertua. Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian orang menganggap hubungan dengan mertua kurang penting daripada hubungan pernikahan. Ini didukung dengan tipe keluarga di Barat yang cenderung independen. Hubungan ini pun menjadi jauh, negatif, dan relatif inconsequential.

• The nonvoluntary, triadic structure of the paren-in –law/child-in-law relationship


Kunci dari elemen yang membuat hubungan mertua-menantu menantang adalah adanya anggapan bahwa mereka terikat dalam hubungan yang triadic dan tidak sukarela. Ini membuat hubungan jadi sulit dipelihara dan dinegosiasikan. Asumsi pertama terhadap hal ini adalah triadic, yaitu bahwa hubungan mertua-menantu dihubungkan oleh orang ketiga, yakni anak/pasangan yang bersangkutan. Dan hubungan mereka dengan anak/pasangan biasanya lebih diutamakan daripada dengan mertua/menantu. Asumsi kedua adalah mereka tidak sukarela/nonvoluntary dalam menjalankan hubungan ini. Apabila hubungan ini diputuskan, maka akibatnya tidak main-main, oleh karena itulah mereka berusaha keras memeliharanya. Menurut Thibaut dan Kelleys (1959), semakin seseorang dipaksa untuk berhubungan dengan orang lain, maka hasilnya akan semakin negatif. Untuk mengatasinya, diperlukan kekuasaan yang setara dikombinasikan dengan pengaruh yang saling menguntungkan. Ada dua alasan untuk itu, yaitu perspektif social exchange tentang kemungkinan untuk berperilaku serupa dan kemungkinan untuk memaksimalkan hasil yang didapatkan oleh kedua belah pihak.

• Interaction between parents-in-law and children-in-law
a. Patterns of mutual aid
Merupkan sifat resiprok dalam keluarga dalam hal saling membantu. Dengan cara ini, masing-masing pihak bisa memaksimalkan hasil yang diperoleh. Sikap saling bantu ini akan memuncak pada peristiwa yang besar dalam hidup, misalnya pernikahan, kelahiran anak, dll. Tipe bantuan berbeda sesuai dengan kebutuhan, dan bergeser sesuai konteksnya. Misalnya pada saat menikah, sepasang anak muda menerima bantuan keuangan, akan tetapi setelah dewasa, bantuan akan bergeser dengan bantuan nonfinacial, seperti membantu mengawasi anak, dll. Menurut Bengston (1993), ada yang namanya “set of shared expectation and obligations”, utamanya saat generasi yang lebih tua dalam keluarga membutuhkan bantuan generasi yang lebih muda. Menurut penelitian Kivet (1985), anak dan menantu memberi paling banyak bantuan kepada generasi yang lebih tua.

b. Effects of in-law interaction on relationship with child/spouse
Menerangkan bahwa hubungan menantu dengan mertua mempengaruhi hubungan mereka dengan anak/pasangan. Ini kurang lebih mempengaruhi kualitas pernikahan yang bersangkutan. Konflik antar mertua-menantu biasanya terjad pada pasangan yang pernikahannya tidak bahagia. Proximity juga mempunyai efek dalam konflik mertua-menantu. Semakin jauh jarak rumah menantu-mertua, kemungkinan timbul konflik semakin besar. Akan tetapi, ada efek positif dari hubungan mertua-menantu. Kedekatan antara mertua-menantu akan berimbas pada kebahagiaan dan kepuasan pernikahan yang bersangkutan. Kunci dari masalah ini adalah penerimaan oleh masing-masing pihak. Sebaliknya, jika mertua-menantu berkonflik, maka hubungan anak-orangtua ikut terganggu. Hal yang berbeda terjadi jika anak dan pasangannya memutuskan bercerai. Ada yang masih berhubungan dengan keluarga mantan pasangannya, ada juga yang memutuskan hubungan karena sudah merasa bukan keluarga. Ini semua tergantung dari kualitas hubungan mertua-menantu semasa masih terikat pernikahan.

c. The triad and larger family system
Merupakan salah satu cara bagaimana hubungan triad (mertua-menantu-anak) dikondisikan dalam sebuah keluarga besar. Disini, menantu memiliki kebebasan untuk memanggil orangtua pasangannya dengan sebutan ‘ayah dan ibu’ dan memanggil adik/kakak iparnya sebagaimana pasangannya biasa memanggil mereka. Menurut Pfeifer (1989) sering timbul kesulitan dalam hal ini, karena menantu biasanya ingin diperlakukan sama dengan keluarga inti dan membanding-bandingkan perlakuan mertua terhadap anak-anak kandungnya dengan dirinya. Teori ini berkaitan dengan communication privacy management (CPM), dimana seorang anggota ‘kelompok’ baru dianggap apabila mendapat informasi yang dianggap privat oleh anggota lainnya. Dalam hal ini, menantu juga ingin dibagi informasi sama seperti yang lain dan ingin mendapatkan peran seperti yang lain, padahal sebelumnya sudah ada rule tersendiri tentang siapa harus melakukan apa. Akibatnya, harapannya tidak terpenuhi dan muncul konflik. Hal ini bisa dinegosiasikan, dan apabila berhasil, hubungan yang positif akan tercipta. Kuncinya, lagi-lagi adalah penerimaan terhadap kehadiran si menantu.

RELATIONSHIP WITH SIBLING IN-LAW
• What is sibling in law?
Saudara ipar adalah siapa saja yang kebetulan adalah saudara dari pasangan yang kita nikahi. Jika pernikahan adalah hubungan yang primary, maka saudara ipar adalah hubungan yang secondary.

• What is known about communication among sibling in law?
Saudara ipar berbeda dengan hubungan lain dalam keluarga. Pertama, saudara ipar berbeda dengan pernikahan karena tidak sukarela dan hubungan yang secondary (kelas dua). Yang kedua, jika dalam monogami jumlah orang dinikahi hanya satu, dalam kasus saudara ipar, bisa jadi kita harus memanage beberapa orang dalam hubungan ini. Yang ketiga, perbedaan antara mertua dengan saudara ipar adalah, biasanya dalam hubungan mertua-menantu, menantu hanya perlu memanage satu pasang orangtua, sedang dalam kasus saudara ipar, bisa jadi yang diurus lebih dari sepasang, bisa tiga, empat, lima, dst.

• Disclosure and privacy
Konflik yang terjadi dengan saudara ipar biasanya berkaitan dengan keterbukaan informasi. Karena kita sudah menikah dengan saudaranya, otomatis kita merasa sudah berhak tahu tentang informasi privat dalam keluarga. Padahal tidak semua keluarga beranggapan demikian dan itu bisa memicu konflik. Lagi-lagi ini berkaitan denan CPM.

• Jealousy and envy
Penelitian menunjukkan bahwa saudara biasanya menginginkan yang dimiliki saudaranya tapi mereka tidak punya (iri) dan takut hal yang jadi miliknya diambil orang lain (cemburu). Dalam kasus saudara ipar, mereka biasanya iri karena hal-hal yang diberikan orangtua kandung saudara iparnya tidak sama dengan apa yang diberikan orangtuanya sendiri. Sementara kecemburuan biasanya terjadi bila pasangan kita lebih memilih menghabiskan waktu dengan saudaranya.

• Affection
Ada beberapa alasan mengapa kasih sayang antar saudara ipar itu unik:
a. Kasih sayang mengantarkan hubungan kita menjadi lebih maju, dari sekedar kewajiban ke hubungan yang lebih sosial, lebih menyenangkan. Bisa juga mempengaruhi kualitas pernikahan kita
b. Kasih sayang antar saudara ipar dinilai Flord dan Morman (1997) lebih pantas dibandingkan dengan teman.

• Relational maintenance
Perilaku maintenance bisa dilakukan secara rutin maupun secara strategis. Contoh perilakunya adalah positivity, sharing task, terlibat dalam social networks, openness, assurances, joint activities, avoidance behaviors, antisocial behaviour, humors, menggunakan kartu, surat, atau telepon. Maintenance behaviour berbeda-beda tergantung tipe hubungannya. Sharing task adalah perilaku yang paling banyak digunakan, sementara openness paling sedikit digunakan. Akan tetapi hati-hati menggunakan maintenance behaviour, karena sering terjadi paradoks. Misalnya, niat kita menghibur suami adik ipar yang di-PHK, namun salah-salah dianggap menggodanya.

• Contemporary research on sibling in law
Flord dan Morr (2000) mempelajari hubungan antar saudara ipar sebagai bagian dari penelitian menyeluruh mengenai komunikasi berbasis kasih sayang dalam keluarga. Menurut mereka, kasih sayang dalam hubungan antar saudara ipar secara langsung dan signifikan dapat menghasilkan kedekatan dan kepuasan relasional. Sementara Yoshimura (2005) menemukan bahwa saudara ipar mempunyai kemungkinan untuk mencemburui satu sama lain dengan tingkatan yang cukup tinggi. Dan menurutnya pula, keirian/kecemburuan itu pasti ada penyebabnya, dan penyebabnya bermacam-macam. Selain penelitian di atas, dibutuhkan banyak penelitian lain yang akan mengeksplor sisi lain dari hubungan antar saudara ipar ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s