CRITICAL CULTURAL STUDIES

Marxist Theory
• Karl Marx membangun teorinya pada akhir abad 19. ia mengidentifikasikan industrialisasi dan urbanisasi sebagai suatu masalah, namun ia berargumentasi bahwa perubahan ini tidak selamanya buruk. Sebaliknya, ia menyalahkan kapitalis sebagai penyebab masalah sosial karena mereka memaksimalkan keuntungan personal dengan mengeksploitasi pekerja.
• Ia berpendapat bahwa sistem hierarki kelas adalah akar penyebab seluruh masalah sosial dan harus diakhiri dengan sebuah revolusi dari kaum pekerja atau proletariat. Ia percaya bahwa kaum elite mendominasi masyarakat secara primer melalui kontrol mereka secara langsung terhadap alat-alat produksi yaitu pekerja, pabrik, dan tanah yang ia rujuk sebagai dasar dari masyarakat.


• Ia melihat budaya sebagai sesuatu yang secara bebas bisa dimanipulasi oleh kaum elite untuk menyalahgunakan rata-rata orang dan mendorong mereka untuk bertindak melawan kepentingan mereka sendiri.
• Ia menyimpulkan bahwa satu-satunya harapan terhadap perubahan sosial adalah revolusi, yang mengarah pada kontrol terhadap alat-alat produksi yaitu pekerja, pabrik, dan tanah – alat-alat produksi. Sehingga nantinya kontrol terhadap superstructure – ideology – akan secara alamiah mengikuti.

Critical Theory and Marxist Theory
• Neo Marxist membelot dari teori marxist klasik yang memfokuskan pada masalah superstructure yaitu ideologi dan budaya daripada alat-alat produksi.
• Beberapa tokoh neo-marxist berasumsi bahwa perubahan yang berguna bisa diawali dengan kedamaian, bentuk ideological daripada revolusi dengan kekerasan.
Textual Analysis and Literary Criticism
• Teori critical modern memiliki sumber yang berbeda – yaitu humanist criticism of religious and literary texs.
• Humanist telah menspesialisasikan yaitu menganalisis teks tertulis semenjak Renaissance. Satu tujuan objektifnya adalah untuk mengidentifikasi teks-teks tersebut yang mempunyai nilai budaya terbesar dan untuk menginterpretasikan mereka sehingga budaya mereka dapat dihargai dan dimengerti oleh yang lain. Teks dilihat sebagai pemaksaan pendudukan di masyarakat. Kritik digunakan untuk memperluas paksaan.
The Frankfurt School
• The frankfurt School mengkombinasikan Marxist Critical Theory dengan Humanist Literary analysis. Tulisan-tulisan mereka mengidentifikasikan dan mempromosikan berbagai bentuk variasi dari budaya tingkat tinggi yaitu musik simfoni, literature terbaik, dan seni. Seperti kebanyakan secular humanist, the frankfurt school melihat budaya tingkat tinggi sebagai sesuatu yang mempunyai integritas, dan nilai yang diwariskan, dan tidak dapat digunakan oleh kaum elite untuk memperluas kekuasaan pribadi mereka.
• Horkheimer dan Adorno secara terbuka mempertanyakan bahwa budaya tingkat tinggi dapat atau seharusnnya dikomunikasikan melalui media. Ia mengklaim bahwa reproduksi budaya tingkat tinggi media massa adalah inferior dan menghambat orang dalam mencari tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Jika hal yang buruk menggantikan budaya tingkat tinggi telah tersedia dan dapat dibaca, ia percaya bahwa terlalu banyak orang akan gagal untuk mendukung bentuk yang lebih baik dari budaya.
• The Frankfurt School telah dikritik oleh bentuk-bentuk lain dari tradisional humanist karena terlalu elitis dan paternalistik. Pada akhirnya The Frankfurt School mempunyai efek langsung terhadap para peneliti sosial Amerka karena kebangkitan kekuatan Nazi yang meminggirkan kaum Yahudi.
• Dalam pandangan mereka Nazism berakar dari hal-hal yang sepele, yang secara buatan dikonstruksi, diciptakan, dan dimanipulasi oleh Hitler dan para propagandisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s