APLIKASI EMPAT MACAM POLA PENGETAHUAN DALAM MEMECAHKAN MASALAH KOMUNIKASI

Pendahuluan
Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya. Biasanya dibedakan tiga macam pengetahuan, yaitu pengetahuan/tahu bahwa, pengetahuan/tahu bagaimana, dan pengetahuan/tahu akan. Tetapi kemudian ditambahkan satu lagi pengetahuan yang serumpun, yaitu pengetahuan/tahu mengapa.
Tahu bahwa adalah pengetahuan tentang informasi tertentu, tahu bahwa sesuatu terjadi, tahu bahwa ini atau itu memang demikian adanya, bahwa apa yang dikatakan memang benar.
Tahu bagaimana menyangkut bagaimana melakukan sesuatu, yang lebih dikenal dengan know how. Pengetahuan ini berkaitan dengan keterampilan atau lebih tepat keahlian dan kemahiran teknis dalam melakukan sesuatu.
Tahu akan/mengenai adalah sesuatu yang sangat spesifik menyangkut pengetahuan akan sesuatu atau seseorang melalui pengalaman atau pengenalan pribadi.
Tahu mengapa merupakan pengetahuan paling tinggi dan mendalam sekaligus juga merupakan pengetahuan ilmiah. Tahu mengapa berkaitan dengan “tahu bahwa”, tapi mendalami masalah dengan lebih serius dan kritis karena berkaitan dengan penjelasan. Tahu mengapa mengaitkan dan menyusun hubungan-hubungan tak kelihatan antara berbagai informasi yang ada untuk memperoleh informasi baru yang akan menyingkapkan pengetahuan lebih mendalam.


Rumusan Masalah

Suatu keluarga selalu disharmonis, bertengkar dan kisruh. Bagaimana aplikasi empat macam pola pengetahuan tersebut dalam memecahkan masalah komunikasi ini?

Pembahasan

Seperti pada skema di atas, hal pertama yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut adalah mengetahui secara langsung apa yang terjadi dengan keluarga itu (tahu akan). Artinya, kita sendiri harus melakukan kontak langsung dengan keluarga itu dan melihat secara pasti apa yang terjadi, misalnya dengan cara berkunjung ke rumah mereka atau berhubungan melalui media seperti telepon, sms, email, surat atau yang lainnya yang memungkinkan kita mendapat informasi langsung dari anggota keluarga tersebut.
Dari pengamatan tadi, kita tahu secara umum apa yang terjadi dengan keluarga itu (tahu bahwa), yaitu ketidakharmonisan. Tapi sekedar tahu saja tidak cukup. Kita perlu mempelajari masalah ketidakharmonisan ini lebih lanjut untuk mendapatkan penjelasan atas ketidakharmonisan tersebut dan cara-cara memecahkannya. Dari sini kita bisa mencari informasi yang berhubungan dengan ketidakharmonisan keluarga melalui media-media penyedia informasi semisal buku, koran, majalah, internet, dan sebagainya.
Setelah informasi yang dikumpulkan cukup, yang perlu dilakukan adalah mengaitkan dan menyusun hubungan-hubungan tak kelihatan antara berbagai informasi yang ada untuk memperoleh informasi baru yang akan menyingkapkan masalah ketidakharmonisan itu lebih mendalam (tahu mengapa). Disinilah kita akan menemukan titik terang dari masalah ketidakharmonisan tersebut.
Ternyata intinya adalah minimnya komunikasi antar anggota keluarga sehingga kerap menimbulkan kesalahpahaman. Akibatnya, dalam keluarga itu sering terjadi pertentangan yang berujung pada ketidakharmonisan. Untuk memecahkan masalah ini, diperlukan diskusi keluarga, yaitu semua anggota keluarga berkumpul dan membicarakan masalah masing-masing dari hati ke hati. Saat salah satu anggota keluarga berbicara, yang lain mendengarkan. Juga diperlukan pengertian yang tinggi dan tenggang rasa di antara mereka. Setelah diskusi antar anggota keluarga selesai, ada baiknya dilanjutkan dengan memperbaiki metode berkomunikasi selama ini. Hal-hal yang membuat komunikasi tidak nyaman segera diubah. Frekuensi berkomunikasi juga harus ditingkatkan.
Bila setelah hal itu dilakukan tetap tidak ada perubahan, mintalah saran pada ahli yang kompeten, misalnya psikolog/psikiater untuk melakukan mediasi. Diharapkan dengan cara seperti ini masalah bisa selesai. Apabila yang terburuk terjadi, yaitu tetap tidak ada penyelesaian, maka berpisah mungkin adalah jalan yang terbaik.
Tapi semua teori di atas percuma saja jika tidak diterapkan. Disinilah kegunaan “pengetahuan bagaimana”. Setelah mendapatkan asumsi teoretis, maka sekarang saatnya mengaplikasikannya dalam tindakan. Dengan demikian, terpecahnya masalah bukan sekedar angan-angan, tapi benar-benar terwujud. Hanya dengan dipraktekkanlah, maka kita bisa tahu apakah teori-teori tadi bisa berhasil di dunia nyata.
Jadi langkah awal adalah benar-benar mengadakan diskusi keluarga. Hasil dari diskusi itu menentukan langkah berikutnya. Jika berhasil, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah menerapkan metode komunikasi yang lebih baik, misalnya lebih sering bertukar kabar dengan anggota keluarga lainnya baik melalui pertemuan secara langsung maupun tidak langsung (melalui telepon, sms, email, dan lain-lain) untuk menjaga hubungan baik.
Namun jika dari diskusi itu tidak ditemukan jalan keluar, maka segeralah menemui psikolog/psikiater. Berkonsultasilah agar masalah terpecahkan. Jika belum berhasil juga, maka jangan ragu untuk memilih berpisah. Karena bisa jadi itu merupakan solusi terbaik. Dengan demikian, masalah ketidakharmonisan tadi bisa dipecahkan.

Penutup
Keempat macam pola pengetahuan tersebut, yaitu tahu akan, tahu bahwa, tahu bagaimana dan tahu mengapa, memiliki hubungan yang sangat erat. Keempatnya saling menunjang satu sama lain dan saling berkaitan untuk membantu manusia sampai pada pengetahuan yang lebih baik dan sempurna. Dengan menerapkan empat macam pola pengetahuan di atas, maka masalah ketidakharmonisan keluarga bisa dipecahkan. Itu membuktikan bahwa pengetahuan sangat berguna dan merupakan salah satu sarana untuk memecahkan masalah manusia. Apabila kita sungguh-sungguh menggali pengetahuan, maka hidup kita akan lebih baik.

KEPUTUSAN, PEMBALIKAN, SERTA PERLAWANAN

• Keputusan
Keputusan adalah suatu perbuatan tertentu dari manusia. Dalam dan dengan perbuatan itu dia mengakui atau memungkiri kesatuan dan hubungan antar dua hal.
Unsur-unsur keputusan :
• Subyek (sesuatu yang diberi keterangan)
• Predikat (sesuatu yang menerangkan tentang subyek)
• Kata penghubung (pernyataan yang mengakui atau memungkiri hubungan antara subyek dan predikat)
Subyek dan predikat adalah materi keputusan, sedang kata penghubung (unsur terpenting) adalah bentuk, formanya.
Macam-macam keputusan


1. Berdasarkan sifat pengakuan dan pemungkirannya dibedakan menjadi
• Keputusan kategoris : predikat menerangkan subyek tanpa syarat. Masih dibagi lagi menjadi:
- Keputusan kategoris tunggal (memuat satu subyek dan satu predikat)
- Keputusan kategoris majemuk (memuat lebih dari satu subyek dan predikat)
- Susunan kata yang menyatakan modalitas, seperti : tentu, niscaya, tidak tentu, dll.
• Keputusan hipotetis : predikat menerangkan subyek dengan syarat. Dibagi menjadi :
- Keputusan (hipotetis) kondisional : ditandai dengan “jika…. maka…”
- Keputusan (hipotetis) disyungtif : ditandai dengan “atau…atau…”
- Keputusan (hipotetis) konyungtif : ditandai dengan “tidak sekaligus… dan…”
Untuk sementara, yang akan dibahas adalah keputusan kategoris tunggal. Pembagian keputusan ini sebagai berikut:
• Berdasarkan materinya:
Keputusan analitis (predikat menyebut sifat hakiki yang pasti dalam subyek) dan keputusan sintetis (predikat menyebut sifat yang tidak hakiki)
• Berdasarkan bentuknya :
keputusan positif (afirmatif) dan negatif
• Berdasarkan luasnya :
Keputusan universal (predikat menerangkan seluruh luas subyek), partikular (predikat menerangkan sebagian dari seluruh luas subyek), dan singular (predikat menerangkan satu barang dengan tegas)
Keputusan A, E, I, O

Berdasarkan bentuk dan luasnya, keputusan dibedakan menjadi :
• Keputusan A : Keputusan afirmatif (positif) dan universal (singular)
Contoh : Semua pelajar SMAN 1 Surabaya lulus Ujian Nasional
• Keputusan E : Keputusan negatif dan universal (singular)
Contoh : Semua yang mati tidak bisa dihidupkan lagi
• Keputusan I : Keputusan afirmatif (positif) dan partikular
Contoh : Beberapa mahasiswa melakukan study tour ke Aceh
• Keputusan O : Keputusan negatif dan partikular
Contoh : Beberapa dosen tidak suka memberi ceramah

• Pembalikan dan Perlawanan
Pembalikan
Membalikkan adalah mengganti subyek dan predikat, sehingga yang dulunya subyek menjadi predikat, dan sebaliknya tanpa mengurangi kebenaran keputusan itu. Ada pembalikan seluruhnya (contoh : keputusan E menjadi E) atau pembalikan sebagian (contoh : keputusan A menjadi menjadi I).
Hukum-hukum pembalikan :
• Keputusan A hanya boleh dibalik menjadi keputusan I
Contoh : Semua mawar adalah bunga hanya bisa dibalik menjadi beberapa bunga adalah mawar, bukan semua bunga adalah mawar
• Keputusan E selalu bisa dibalik
Contoh : Semua kancil bukan tumbuhan bisa dibalik menjadi semua tumbuhan bukan kancil atau beberapa tumbuhan bukan kancil
• Keputusan I hanya dapat dibalik menjadi keputusan I lagi
Contoh : Beberapa sepeda itu rusak dapat dibalik menjadi beberapa yang rusak itu sepeda
• Keputusan O tidak dapat dibalik
Contoh : Beberapa orang tidak jatuh tidak dapat dibalik menjadi Beberapa yang jatuh tidak (bukan) orang

Perlawanan
Keputusan yang berlawanan adalah keputusan yang tidak dapat sama-sama benar atau sama-sama salah.
Macam-macam perlawanan :
• Menurut bentuknya : perlawanan kontraris dan subkontraris
• Menurut luasnya : perlawanan subaltern
• Baik bentuk maupun luas : perlawana kontradiktif

sumber: OFM, Alex Lanur. 1983. Logika : Selayang Pandang. Yogyakarta : Kanisius

NILAI

Sejumlah ahli ilmu pengetahuan yang tertarik dengan tingkah laku manusia, sejak lama telah tertarik dengan konsep nilai (mis, Kluckhohn, 1951; Allport, 1960; Rokeach, 1973; Schwartz, 1992, 1994; Feather, 1994, 1995). Kluckhohn (dalam Zavalloni, 1975) sebagai seorang antropolog, misalnya, sejak tahun 1951 telah mendefinisikan nilai sebagai :
“… a conception explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of the desirable which influence the selection from available modes, means and ends of action.” (Kluckhohn dalam Zavalloni, 1975, hal. 75)


Isu penting yang menurut Zavalloni (1975) perlu diperhatikan dalam pemahaman tentang nilai adalah, nilai seseorang dapat sama seperti nilai semua orang lainnya, sama dengan sebagian orang, atau tidak sama dengan semua orang lain. Definisi Kluckhohn di atas menggambarkan bahwa nilai selain mewakili keunikan individu, juga dapat mewakili suatu kelompok tertentu. Hal ini mulai mengarah kepada pemahaman nilai yang universal. Dalam perkembangannya, Rokeach (1973) dengan tegas mengatakan bahwa asumsi dasar dari konsep nilai adalah bahwa setiap orang, di mana saja, memiliki nilai-nilai yang sama dengan derajat yang berbeda (menunjukkan penegasan terhadap konsep universalitas nilai). Namun penelitian yang paling komprehensif tentang nilai-nilai yang universal (dalam arti terdapat di mana saja di semua budaya) dimulai oleh Schwartz dan Bilsky (1987). Mereka mulai mencari nilai-nilai apa yang universal dari 44 negara dengan sampel di masing-masing negara berkisar antara 154 sampai dengan 542 orang.
Isu lain yang penting sebelum membahas nilai adalah tentang isi (content) dari berbagai nilai yang dianut manusia. Berdasarkan kajiannya atas berbagai teori dari para ahli mengenai nilai, Schwartz melihat tidak satupun dari teori tersebut yang berupaya mengklasifikasikan isi atau muatan (content) dari berbagai nilai yang dianut oleh individu (Schwartz, 1994). Schwartz kemudian berupaya untuk mengklasifikasikan nilai-nilai berdasarkan muatannya yang kemudian disebut dengan tipe nilai. Dengan mempertimbangkan universalitas, isi maupun struktur nilai yang telah dikembangkan Schwartz, maka dalam penelitian ini kerangka teori yang digunakan adalah teori nilai dari Schwartz. Walaupun begitu, pembahasannya tidak terlepas dari tokoh-tokoh lain yang juga tertarik dengan nilai, terutama menyangkut kaitan nilai dengan variabel lain seperti keyakinan, sikap dan tingkah laku yang tidak dibahas lagi oleh Schwartz. Ini menyebabkan dasar teoritis dalam mengkaitkan nilai dan tingkah laku menggunakan teori lain, yaitu belief system theory (Rokeach, 1973; Homer &Kahle, 1988; Grube dkk., 1994).
Teori nilai Schwartz (1992, 1994), walaupun masih berdasarkan teori sebelumnya dari Rokeach (1973), tapi menunjukkan perbedaan yang berarti. Teori nilai Schwartz dipilih dalam penelitian ini, memperhatikan kritiknya terhadap teori Rokeach yang banyak melakukan tumpang-tindih antara nilai satu dengan nilai lainnya (Schwartz, 1994), bahkan antara nilai terminal dan instrumental. Sedangkan Schwartz telah melakukan pengkategorisasian ke dalam sejumlah tipe nilai, dimana kategori tersebut telah teruji secara konseptual maupun statistik. Di samping itu, Schwartz juga telah menyusun struktur nilai-nilai tersebut secara spesifik dan komprehensif, sehingga nilai seseorang dapat ditempatkan ke dalam “peta” nilai. Berbeda dengan Rokeach yang menyebut nilai sebagai sistem, namun tidak terlalu banyak menjelaskan hubungan dan sifat dari sistem tersebut. Sedangkan dengan “peta” nilai, kita dapat melihat keterkaitan suatu nilai dengan nilai lainnya, sekaligus dapat menginterpretasi hubungan tersebut.


Pengertian Nilai (human values)

Untuk memahami pengertian nilai secara lebih dalam, berikut ini akan disajikan sejumlah definisi nilai dari beberapa ahli.
• “Value is a general beliefs about desirable or undesireable ways of behaving and about desirable or undesireable goals or end-states.” (Feather, 1994 hal. 184)
• Menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara fungsional.
• Nilai adalah patokan normatif yang memengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif (Kupperman, 1983).
• “Value is an enduring belief that a specific mode of conduct or end-state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end-state of existence.” (Rokeach, 1973 hal. 5)
• Menurut Dictionary dalam Winataputra (1989), nilai adalah harga atau kualitas sesuatu.
• “Value as desireable transsituatioanal goal, varying in importance, that serve as guiding principles in the life of a person or other social entity.” (Schwartz, 1994 hal. 21)
Lebih lanjut Schwartz (1994) juga menjelaskan bahwa nilai adalah (1) suatu keyakinan, (2) berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, (3) melampaui situasi spesifik, (4) mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta (5) tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, terlihat kesamaan pemahaman tentang nilai, yaitu (1) suatu keyakinan, (2) berhubungan dengan cara bertingkah laku dan tujuan akhir tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.
Pemahaman tentang nilai tidak terlepas dari pemahaman tentang bagaimana nilai itu terbentuk. Schwartz berpandangan bahwa nilai merupakan representasi kognitif dari tiga tipe persyaratan hidup manusia yang universal, yaitu :
1. kebutuhan individu sebagai organisme biologis
2. persyaratan interaksi sosial yang membutuhkan koordinasi interpersonal
3. tuntutan institusi sosial untuk mencapai kesejahteraan kelompok dan kelangsungan hidup kelompok (Schwartz & Bilsky, 1987; Schwartz, 1992, 1994).
Jadi, dalam membentuk tipologi dari nilai-nilai, Schwartz mengemukakan teori bahwa nilai berasal dari tuntutan manusia yang universal sifatnya yang direfleksikan dalam kebutuhan organisme, motif sosial (interaksi), dan tuntutan institusi sosial (Schwartz & Bilsky, 1987). Ketiga hal tersebut membawa implikasi terhadap nilai sebagai sesuatu yang diinginkan. Schwartz menambahkan bahwa sesuatu yang diinginkan itu dapat timbul dari minat kolektif (tipe nilai benevolence, tradition, conformity) atau berdasarkan prioritas pribadi / individual (power, achievement, hedonism, stimulation, self-direction), atau kedua-duanya (universalism, security). Nilai individu biasanya mengacu pada kelompok sosial tertentu atau disosialisasikan oleh suatu kelompok dominan yang memiliki nilai tertentu (misalnya pengasuhan orang tua, agama, kelompok tempat kerja) atau melalui pengalaman pribadi yang unik (Feather, 1994; Grube, Mayton II & Ball-Rokeach, 1994; Rokeach, 1973; Schwartz, 1994).
Nilai sebagai sesuatu yang lebih diinginkan harus dibedakan dengan yang hanya ‘diinginkan’, di mana ‘lebih diinginkan’ mempengaruhi seleksi berbagai modus tingkah laku yang mungkin dilakukan individu atau mempengaruhi pemilihan tujuan akhir tingkah laku (Kluckhohn dalam Rokeach, 1973). ‘Lebih diinginkan’ ini memiliki pengaruh lebih besar dalam mengarahkan tingkah laku, dan dengan demikian maka nilai menjadi tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.
Sebagaimana terbentuknya, nilai juga mempunyai karakteristik tertentu untuk berubah. Karena nilai diperoleh dengan cara terpisah, yaitu dihasilkan oleh pengalaman budaya, masyarakat dan pribadi yang tertuang dalam struktur psikologis individu (Danandjaja, 1985), maka nilai menjadi tahan lama dan stabil (Rokeach, 1973). Jadi nilai memiliki kecenderungan untuk menetap, walaupun masih mungkin berubah oleh hal-hal tertentu. Salah satunya adalah bila terjadi perubahan sistem nilai budaya di mana individu tersebut menetap (Danandjaja, 1985).