DECISION MAKING PROCESS

I.Models of Decision Making Process

a.Rational Models of Decision Making
Dalam model ini, proses pengambilan keputusan adalah proses yang rasional dan logis. Nutt (1984) menamai model ini dengan normative method. Model ini mencakup lima tahap, yaitu formulation, concept development, detailing, evaluation, dan implementation.
•Formulation adalah proses pendefinisian masalah.
•Concept development adalah mencari alternatif solusi yang tepat buat memecahkan masalah tersebut.
•Detailing adalah memperoleh informasi lebih rinci terkait dengan alternatif solusi
•Evaluation adalah mengumpulkan semua informasi mengenai alternatif solusi untuk didiskusikan ulang
•Implementation adalah proses pengambilan keputusan, dimana organisasi memilih solusi terbaik untuk diimplementasikan.

b.Alternative to Rational Models
Banyak yang menyangkal rational models karena beranggapan bahwa teori ini tidak menggambarkan kondisi organisasi yang sesungguhnya. Contohnya Simon (1987) mengusulkan intuitive process of manager, yang mengklaim bahwa manajer seringkali mengambil keputusan secara intuitif dengan berkaca pada penyelesaian masalah di masa lalu. Penyebabnya, banyak manajer harus mengambil keputusan secara cepat sehingga tidak mampu berpikir rasional.
March dan rekannya, Olsen (1972) tidak mau kalah dan menyampaikan teori “Keranjang Sampah”. Dalam pandangan March dan Olsen, pengambilan keputusan adalah sebuah proses yang sangat ambigu dan tak-terprediksi, dan kecil sekali kaitannya dengan upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.Menurut mereka, model ini adalah:
Sebuah tong sampah kemana berbagai masalah dan solusi dilemparkan oleh para partisipan proses pengambilan keputusan. Campuran sampah dalam sebuah tong sebagian ditentukan oleh berbagai label yang ditempelkan pada tong-tong yang lain; tetapi sebagian lagi ditentukan oleh sampah seperti apa yang dihasilkan pada saat itu, pada campuran tong-tong yang tersedia, dan seberapa cepat sampah bisa dikumpulkan dan dibuang.


II.Small Group Decision Making

a.Descriptive Models of Small-Group Decision Making
Merupakan versi rasional dalam proses pengambilan keputusan dalam kelompok. B.A. Fisher (1970) mengidentifikasi empat fase dalam teori ini: orientation, conflict, emergence, dan reinforcement.
-Orientation adalah tahap dimana kelompok mulai berkumpul dan menghadapi masalah
-Conflict adalah proses penyajian berbagai alternatif solusi dan debat antar anggota kelompok
-Emergence adalah proses konsensus dalam kelompok
-Reinforcement adalah mendukung keputusan yang sudah dibuat dalam konsensus.
Akan tetapi, teori ini banyak ditolak oleh theorist lainnya, diantaranya Poole yang mengemukakan tipolologi proses pengambilan keputusan bagi kelompok.
b.Effective Small-Group Decision Making
Amason (1996) menyarankan bahwa cara yang baik untuk mengambil keputusan adalah dengan mengenal tipe-tipe konflik dalam organisasi. Ada cognitive conflict (mengenai hal-hal yang berkaitan dengan tugas dan pencapaian tujuan tertentu) dan affective conflict (fokus pada masalah personal).
Rechner (1989) mengatakan bahwa jika para individu menjadi “devil’s advocates” dalam proses pengambilan keputusan, maka keputusan yang diambil akan memiliki kualitas yang lebih baik.

III.Proses Pengambilan Keputusan

Terdapat berbagai macam proses pengambilan keputusan dalam organisasi, namun sebenarnya semuanya melewati beberapa tahap yang mirip, yaitu ada masalah yang harus diselesaikan, ada proses berpikir, dan ada proses pengambilan keputusan. Berbagai teori dari para ahli pun banyak yang dikemukakan, akan tetapi, semua perlu disesuaikan dengan iklim dan budaya organisasi. Di bawah ini adalah beberapa proses pengambilan keputusan menurut H.A. Simon dan James March, Karl Weick, serta I.L Janis sesuai dengan pertanyaan diskusi minggu ini:
•James March dan rekannya, Herbert Simon, satu-satunya ahli administrasi publik yang pernah mendapatkan hadiah Nobel, berpendapat dalam serangkaian buku dan artikel bahwa ada beberapa hambatan yang tidak memungkinkan para pengambil keputusan untuk mencapai rasionalitas yang murni dan komprehensif dalam keputusan-keputusan mereka. Pertama, ada batasan-batasan kognitif pada kemampuan pengambil keputusan untuk mempertimbangkan seluruh opsi yang ada, sehingga mereka terpaksa bertindak selektif dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif tersebut. Jika demikian, maka nampaknya mereka memilih di antara opsi yang ada berdasarkan landasan ideologi atau politik, atau malah secara acak, tanpa merujuk dampak dari pilihan mereka terhadap efisiensi. Kedua, model ini mengasumsikan bahwa adalah mungkin bagi para pengambil keputusan untuk mengetahui konsekuensi dari setiap keputusan yang mereka ambil, yang dalam kenyataannya kasus seperti ini sangat jarang terjadi. Ketiga, setiap opsi kebijakan diikuti oleh berbagai konsekuensi, baik yang bersifat positif maupun negative, yang menjadikan upaya komparasi berbagai konsekuensi tersebut menjadi sulit untuk dilakukan. Karena opsi yang sama bisa jadi efisien atau tidak-efisien tergantung dari situasinya, maka tidaklah mungkin bagi pengambil keputusan untuk sampai pada kesimpulan mutlak tentang alternatif mana yang lebih baik daripada alternatif lain.
Penilaian Simon menyimpulkan bahwa berbagai keputusan pada prakteknya tidak memaksimalkan manfaat di atas beban, tetapi hanya cenderung untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh para pengambil keputusan untuk diri mereka sendiri dalam masalah yang sedang menjadi perhatian. ‘Satisfying criterion’ ini adalah sesuatu yang nyata, sebagai sesuatu muncul dari hakekat rasionalitas manusia yang terbatas.

•Menurut Karl Weick (1969), proses mengorganisasi adalah “pengurangan equivocality dalam enacted encirontment (lingkungan yang ditetapkan) dengan cara menghubungkan perilaku yang melekat (pada individu) pada proses yang berkaitan (dengannya) secara kondisional”. Definisi yang kompleks tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
Weick beranggapan bahwa organisasi berada dalam sebuah lingkungan. Bukan hanya lingkungan fisik, akan tetapi lingkungan informasi (information environtment). Individu menciptakan lingkungan ini melalui proses enactment (penetapan). Proses enactment menyatakan bahwa anggota organisasi yang berbeda akan memahami informasi dengan cara berbeda dan oleh karena itu menciptakan lingkungan informasi yang berbeda. Weick menjelaskan “tidak ada jenis lingkungan yang monolitik, singular, dan tetap yang terlepas dari individu. Malahan, individu merupakan bagian dari lingkungan itu sendiri.”
Dalam teori Weick, tujuan utama dari berorganisasi adalah mengurangi equivocality dalam lingkungan informasi. Equivocality adalah ketidakpastian yang tidak bisa dipisahkan dari lingkungan informasi suatu organisasi. Dalam sebuah situasi yang equivocal, ada banyak interpretasi yang bisa digunakan dalam suatu kejadian.
Untuk mengurangi equivocality, Weick merumuskan assembly rules dan communication cycle.
Assembly rules (peraturan buatan) adalah prosedur yang bisa memandu anggota organisasi dalam menetapkan pola tertentu dari proses sensemaking.
Akan tetapi, ketika equivocality sedang tinggi, anggota organisasi melakukan communication cycle (siklus komunikasi). Melalui communication cycle, anggota organisasi berusaha memahami situasi dalam lingkungan yang equivocality. Penggunaan assembly rules dan communicaton cycle sangat penting dalam selection stage dalam teori Weick.
Ketika proses sensemaking efektif, maka Weick mengajukan konsep mengenai retention, dimana peraturan dan siklus yang tadi digunakan akan disimpan untuk keperluan yang akan datang.
Dalam kaitannya dengan proses pengambilan keputusan, teori Weick menetapkan bahwa keputusan diolah dalam selection stage. Dalam situasi organisasi yang equivocal, terdapat berbagai interpretasi untuk menyikapi suatu informasi dalam lingkungan informasi. Untuk mengatasinya, digunakan proses assembly rules atau communication cycle yang merupakan proses dimana anggota organisasi mengolah informasi yang tersebar dalam lingkungan informasi untuk kemudian mengambil keputusan sesuai tingkat equivocality-nya. Dalam kondisi dimana equivocality tidak terlalu tinggi, biasanya organisasi memiliki assembly rules atau peraturan yang sudah terpola untuk kondisi tertentu. Misalnya ketika seorang direktur meminta sekretarisnya membuatkan surat resmi, maka sekretarisnya sudah tahu bagaimana seharusnya surat itu dibuat, karena form-nya sudah dibuat sebelumnya dan selalu digunakan dalam situasi demikian. Akan tetapi ketika equivocality tinggi, maka communication cycle akan berlaku. Contohnya : ketika suatu rumah sakit dikelola oleh manajemen yang baru, segala sesuatunya diganti termasuk peraturan-peraturan yang lama. Karena tidak ada assembly rules, maka para pegawai yang sudah bekerja sejak lama disana mengandalkan kemampuan komunikasinya untuk menafsirkan informasi dalam lingkungan barunya, yaitu dengan cara bertanya pada rekannya dan sebagainya.
•Menurut Janis (1982), Groupthink adalah model berpikir anggota organisasi dimana mereka memiliki rasa kohesif in-grup yang tinggi dan lebih mementingkan kesatuan organisasi daripada pemecahan problem secara rasional. Dengan demikian, proses pengambilan keputusan di organisasi ini cenderung kurang rasional dan menghasilkan keputusan yang salah atau berkualitas rendah karena adanya tekanan untuk mempertahankan keseragaman dalam kelompok yang sangat kohesif.

About these ads

2 gagasan untuk “DECISION MAKING PROCESS

  1. Ping-balik: Karl E. Weick: Teori Enactment | Teori Organisasi dan Manajemen

  2. Ping-balik: Decission Making process | desvianautami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s