MAX WEBER THEORY OF BUREAUCRACY

Max Weber mungkin menjadi salah seorang yang paling berpengaruh di dunia karena pengaruh ajarannya pada ilmu pengetahuan sosial. Ia terkenal oleh karena studinya mengenai pembirokrasian masyarakat; banyak aspek dari administrasi publik moderen berpaling kepadanya; pendekatan klasik, pegawai pemerintah yang secara organisasi hirarkhis selanjutnya disebut “Weberian civil service.” akan tetapi, bertolak belakang dengan pendapat masyarakat umum, “bureaucracy” merupakan kata yang berasal dari inggris jauh sebelum Weber; Kamus Bahasa Inggris terbitan Oxford menyebutkan kata ini beberapa kali dalam edisi tahunan yang berbeda antara tahun 1818 dan 1860, sebelum tahun kelahiran Weber pada 1864.


Weber Theory Of Bureaucracy dilabeli sebagai “teori yang ideal” karena mencoba merumuskan sesuatu yang abstrak mengenai bagaimana seharusnya organisasi yang ideal dibentuk. Weber menggambarkan tipe birokrasi ideal dalam nada positif, membuatnya lebih berbentuk organisasi rasional dan efisien daripada alternatif yang terdapat sebelumnya, yang dikarakterisasikan sebagai dominasi karismatik dan tradisional. Menurut terminologinya, birokrasi merupakan bagian dari dominasi legal. Akan tetapi, ia juga menekankan bahwa birokrasi menjadi inefisien ketika keputusan harus diadopsi kepada kasus individual.
Menurut Weber, atribut birokrasi moderen termasuk kepribadiannya, konsentrasi dari arti administrasi, efek daya peningkatan terhadap perbedaan sosial dan ekonomi dan implementasi sistem kewenangan yang praktis tidak bisa dihancurkan. Birokrasi ala Weber dikenal juga dengan sebutan “Birokrasi Weberian”.
Berikut beberapa pemikiran-pemikirannya:
• Weber percaya bahwa birokrasi seharusnya dioperasikan dalam sistem hierarki.
Menurut prinsip ini, organisasi harus diatur dalam sistem hierarki vertikal yang ketat dan komunikasi antar pekerja dibatasi sesuai jabatannya
• Weber merancang sistem birokrasi agar memiliki pembagian kerja.
Karena menganut aliran klasik dimana manusia dianggap seperti mesin, maka terjadi pembagian kerja sebagaimana spare part dalam tubuh mesin, dimana masing-masing bagian memiliki spesifikasi kerja yang berbeda.
• Birokrasi memiliki karakteristik bahwa alur kekuasannya terpusat.
Dalam pandangan ini, organisasi dianggap akan menjadi paling efektif apabila manajemen pusat memiliki kontrol terhadap proses pengambilan keputusan dan kegiatan pekerja.
• Weber menekankan bahwa sistem birokrasi adalah sistem tertutup.
Menurut Weber, organisasi seharusnya menutup diri dari lingkungannya karena dapat mengganggu kinerja organisasi.
• Weber juga menekankan bahwa peraturan sangat penting dalam sistem birokrasi.
Menurutnya, semua hal dalam organisasi harus memiliki peraturan tertulis agar pekerjaan berjalan dengan teratur dan formal.
• Adanya functioning of authority (fungsi kekuasaan) yang dibagi menjadi tiga bagian:
a. Traditionally authority, yaitu kekuasaan yang berasal dari kepercayaan secara tradisional, misalnya mengenai penetapan Ratu Elizabeth sebagai ratu Inggris karena kepercayaan lama.
b. Charismatic authority, yakni kekuasaan yang berdasarkan kemampuan seseorang untuk berinteraksi atau menarik hati orang lain. Kekuasaan tipe ini sangat tidak stabil.
c. Rational-legal authority, adalah kekuasaan yang didapatkan dari kemampuan individu. Weber sangat menekankan pada kekuasaan tipe ini karena menurutnya ini adalah dasar dari functioning of authority.

1. KELEBIHAN SISTEM BIROKRASI MAX WEBER:
a. Ada Aturan, Norma, dan Prosedur untuk Mengatur Organisasi
Dalam model teori birokrasi Max Weber, ditekankan mengenai pentingnya peraturan. Weber percaya bahwa peraturan seharusnya diterapkan secara rasional dan harusnya ada peraturan untuk segala hal dalam organisasi. Tentunya, peraturan-peraturan itu tertulis. Dengan demikian, organisasi akan mempunyai pedoman dalam menjalankan tugas-tugasnya
b. Ada Spesialisasi Pekerjaan dan Job Description yang Jelas
Dalam sistem ini, terdapat pembagian tugas yang spesifik, seperti halnya mesin, dimana setiap orang hanya mengerjakan pekerjaan tertentu yang telah didelegasikan kepadanya. Dengan demikian, pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik dan cepat serta tidak ada benturan kepentingan karena masalah overlapping pekerjaan.
c. Ada Hierarki Otoritas yang Formal, Sehingga Memudahkan Pengkoordinasian
Dengan adanya hierarki otoritas, masing-masing pekerja tahu dimana posisinya dan otomatis akan mengikuti perintah supervisor/atasannya, sehingga proses pengkoordinasian pekerja menjadi mudah.

KEKURANGAN SISTEM BIROKRASI MAX WEBER:
a. Hierarki Otoritas Yang Formal Malahan Cenderung Kaku
Karena sistem hierarki perusahaan, maka bawahan akan segan menyapa atasannya kalau tidak benar-benar perlu. Hal ini menciptakan suasana formal yang malah cenderung kaku dalam organisasi.
b. Aturan dan Kontrol yang Terlalu Rinci Menyebabkan Impersonality atau Melupakan Unsur-Unsur Kemanusiaan
Tidak ada antusiasme maupun keceriaan dalam organisasi karena segala sesuatunya sudah diatur sedemikian rupa. Manusia disamakan dengan mesin yang tidak punya hati dan hanya bekerja demi perusahaan.

Sistem birokrasi masih cukup relevan untuk dipakai sampai saat ini, karena ada beberapa organisasi tertentu yang butuh hierarki organisasi dan aturan/kontrol yang ketat. Yang paling tampak adalah organisasi militer, misalnya TNI. TNI butuh peraturan tegas untuk melatih disiplin anggotanya. Mereka juga butuh struktur organisasi yang jelas terkait dengan pengkomandoan pasukan. Alur kekuasannya pun menggunakan prinsip centralization atau pemusatan perintah, dimana perintah harus turun langsung atau mendapat persetujuan dari pemimpin sebelum mereka mulai bergerak. Dari sini dapat kita lihat betapa mereka masih bergantung pada sistem birokrasi.
Badan-badan pemerintah juga menggunakan sistem birokrasi, terutama terkait dengan struktur organisasi. Biasanya, lembaga negara sangat menerapkan prinsip centralization, dimana mereka takut bertindak kalau tidak ada perintah atasannya. Dalam bekerja pun mereka cenderung lambat karena harus melewati berbagai tahap dan bermacam-macam orang dari beragam jabatan sebelum akhirnya menyelesaikan pekerjaan. Contoh : pengurusan surat tanah yang memakan waktu lama
Akan tetapi, organisasi tidak mungkin membebaskan diri sepenuhnya dari struktur. Apabila tanpa struktur, maka anggota organisasi akan kesulitan dalam mengerjakan tugas organisasi, terutama dalam mengkoordinasi anggota lain. Terlebih, menurut Arni Muhammad (2005) salah satu karakteristik organisasi adalah terstruktur. Untuk mencapai tujuannya, organisasi butuh aturan, undang-undang, dan hierarki yang dinamakan struktur organisasi. Struktur menjadikan organisasi membakukan prosedur kerja dan mengkhususkan tugas yang berhubungan dengan proses produksi untuk mencapai tujuan organisasi yang merupakan fungsi utama berdirinya organisasi tersebut.
Selain itu, dalam suatu organisasi dibutuhkan koordinasi agar setiap bagian organisasi dapat bekerja dengan baik. Dengan adanya struktur, maka proses pengkoordinasian ini akan semakin efektif karena tiap orang tahu dimana letak kewenangannya. Struktur menempatkan anggota dalam strata tertentu dalam organisasi dimana mereka akan punya ‘atasan’ dan ‘bawahan’. Atasan bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan bawahannya dan bawahan seharusnya menuruti perintah dari atasannya. Tugas organisasi akan didistribusikan oleh atasan kepada bawahan dan si atasan akan mengontrol serta mengawasi kinerja bawahannya. Tugas organisasi pun dapat diselesaikan dengan baik dan teratur. Apabila tanpa struktur, maka proses koordinasi akan sulit karena tiap anggota pasti tidak mau ‘diperintah’ karena merasa posisi mereka sejajar. Mereka semua pasti ingin menjadi yang ‘teratas’ dan akibatnya, tugas organisasi menjadi terabaikan karena kerap terjadi pertentangan ego antar anggota.

PATTERN OF CONFLICT INTERACTION

1. Negative reciprocity
Pola dimana perilaku agresi akan mengakibatkan perilaku agresi pula. Sekali melakukan agresi, orang lain akan mengikuti. Ada dua alasan mengapa ini terjadi : pertama, seseorang lebih merasakan emosi negatif daripada postif saat terjadi konflik. Kedua, orang merasa bahwa orang lain menunjukkan rasa permusuhan. Ada beberapa taktik yang digunakan, yaitu :


• Gunnysacking
Gunnysacking terjadi ketika orang menimbun keluhan dan melontarkannya pada partnernya saat konflik.
• Kitchensinking
Kitchensinking adalah mengulangi kembali argumentasi lama mereka.
• bringing third party.
Bringing third party terbagi menjadi beberapa cara: pertama,orang mengatakan hal yang dikatakan orang lain sebagai bukti. Kedua, membawa-bawa teman dan keluarga dalam argumentasi, ketiga membandingkan partnernya dengan orang lain.
2. The demand-withdrawal pattern
Terjadi ketika seseorang menggunakan demanding communication agar terjadi konflik, sementara pasangannya memilih menarik diri/tidak menghiraukan. Pasangan yang mengalami hal ini bermasalah dalam punctuation, dimana mereka punctuate penyebab konflik secara berbeda-beda.
3. The four horsemen of the apocalypse
• complain/critism
Dalam complain, ada lima tipe yang mungkin terjadi, yaitu : komplain tentang perilaku, karakteristik, performance, penampilan, dan metacomplain (mengkomplain kebiasaan pasangannya yang suka mengkomplain).
• contept/disgust
disgust adalah tipikal komunikasi yang menimbulkan kesan tidak enak. Contempt adalah cara komunikasi yang negatif.
• Defensiveness
Beberapa perilaku komunikasi yang termasuk defensiveness antara lain : denying responsibility for a problem, issuing countercomplain, whining, making accusiation, dan reading mind. Mind reading terjadi ketika orang berasumsi bahwa mereka tahu tentang perasaan, emosi, motivasi, dan perilaku pasangannya. Mind reading menyalahi dua prinsip fair fighting, yaitu : sering langsung mengambil kesimpulan dan berdasarkan overgeneralization
• Stonewalling
Adalah kegiatan menghindar dari konflik
4. Patterns of accomodation
Ada tiga prinsip yang utama, yaitu : orang punya kecendurungan untuk retaliate ketika dihadapkan pada destructive behavior, akomodasi terjadi ketika orang bisa diperdaya oleh kecenderungan tersebut dan terlibat dalam komunikasi yang kooperatif, dan akomodasi biasanya terjadi pada pasangan yang mempunyai komitmen. Kunci keberhasilan akomodasi adalah positif reciprocity, yaitu keduanya terlibat dalam strategi yang kooperatif.

EXPLANATION FOR CONFLICT PATTERNS

1. Emotional flooding
Terjadi ketika seseorang menjadi kaget atas perilaku pasangannya yang negatif. Ketika ini terjadi,biasanya mereka melakukan button pushing, yaitu dengan sengaja mengatakan sesuatu yang menyakitkan pasangannya. Ada juga empty threat, dimana biasanya mereka mengancam akan melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
2. Attribution
Adalah proses perseptual untuk mengetahui alasan atau penyebab dari perilaku seseorang. Ada tiga tipe spesifik dari attribusi, yaitu :
a. people attribute a person behaviour to personal vs situational cause
b. People make attributions about behaviour being stable versus unstable
c. People make attributions about how global versus specific
3. Communication skill deficit
a. Argumentative vs aggresiveness
Argumentative : model konflik yang fokus pada proses argumentasi
Verbal aggresiveness : menyerang konsep diri orang lain dengan tujuan menyakiti orang lain
b. Effective listening:
- Let your partner speak
- Put yourself in your partner place
- Don’t jump into conclusion
- Ask questions
- Paraphrase what your partner says

MANAGING CONFLICT IN RELATIONSHIP
1. Defining interpersonal conflict
a. Expressed disagreement
Konflik eksis hanya jika terjadi disagreement atau tension
b. Interdependence
Hanya orang yang berhubungan dengan orang lain yang berpotensi menimbulkan konflik
c. Felt need to resolve
Hanya konflik yang menurut kita patut diselesaikan yang akan dibahas
2. Principle of conflict
a. Conflict is a natural process in all relationship
Konflik itu normal, tidak dapat dihindarkan dalam setiap hubungan interpersonal
b. Conflict may be overt or covert
Overt conflict : konflik yang terjadi secara eksplisit, sementara covert adalah sebaliknya.
c. Conflict behavior and meaning are shaped by social location
- Culture diffirences regarding conflict
- Differences arising from distint social communities
d. Conflict can be managed well or poorly

Salah satu alasan kenapa konflik ditangani dengan buruk adalah karena sering berkaitan dengan perasaan yang tidak dapat diidentifikasikan/diekspresikan oleh seseorang. Cara mengatasinya adalah mengenali perasaan-masing masing dan memilih cara terbaik untuk mengkomunikasikan perasaan itu.
e. Conflict can be good for individual and relationship
Beberapa manfaat konflik : membuat individual semakin berkembang dan mempererat hubungan, membuat pasangan jadi saling mengerti satu sama lain, dan bisa menerima point of view yang berbeda dari orang lain.
3. Orientations to conflict
a. Lose-lose
Berarti bahwa dalam suatu konflik, semua yang terlibat di situ mengalami ‘kekalahan’. Ini sangat tidak sehat dan merusak hubungan.
b. Win-lose
Berasumsi bahwa salah seorang diantaranya menang, sementara yang lain kalah. Disagreements dianggap sebagai pertempuran yang harus dimenangkan.
c. Win-win
Menyarankan bahwa selalu ada cara untuk menyelesaikan masalah sehingga semua orang merasa puas.
4. Responses to conflict
a. Exit response
Artinya, orang yang bersangkutan meninggalkan konflik, baik secara fisik maupun psikologis. Biasanya ini terjadi pada konflik yang berorientasi pada lose-lose atau win-lose.
b. Neglect response
Adalah mengurangi masalah, disagreement, kemarahan, tension, dan lain-lain yang bisa berujung pada overt conflict
c. Loyalty response
Berarti mempertahankan komitmen dalam relationship meski ada masalah. Mereka memilih bersikap toleransi terhadap masalah tersebut.
d. Voice response
Sikap siap menghadapi konflik secara langsung dan berusaha menyelesaikannya.
5. Communication patterns during conflict
a. Unproductive conflict communication
- Early stages
Merupakan stage awal, yang bermula dari komunikasi yang gagal menganggap/confirm keberadaan seseorang
- Midde stage
Kitchensinking (lihat penjelasan di atas) termasuk di dalamnya. Ditandai dengan banyaknya interupsi dalam percakapan.
- Later stage
Merupakan stage final dimana terjadi excessive metacommunication, atau orang berkomunikasi tentang proses komunikasi yang tengah terjadi.
b. Constructive conflict communication
- Early stages
Mau mengakui keberadaan orang lain, serta menghargai perasaannya.
- Middle stage
Terjadi agenda building, atau tetap fokus pada isu utama, serta tidak menginterupsi pembicaraan pasangannya.
- Later stage
Stage terakhir yaitu menyelesaikan masalah yang terjadi. Ada contracting, yaitu membangun solusi lewat negosiasi dan menerima ide orang lain. Ada juga counterproposal, atau berlomba agar usulnya diterima. Dalam counterproprosal, terjadi orientasi win-lose, jadi lebih baik menggunakan contracting
c. Conflict management skills
Ada 8 conflict management skill spesifik yang dapat menyebabkan komunikasi interpersonal yang efektif :
- Attend to relationship level of meaning
- Communicate supportively
- Listen mindfully
- Take responsibility for your thoughts, feeling, and issue
- Check perception
- Look for points of agreement
- Look for ways to preserve the other’s face
- Imagine how you’ll feel in the future
6. Guideliness for effective communication during conflict
a. Focus on the overall communication system
Karena komunikasi sifatnya sistemik, maka kita dapat mengira-ngira bagaimana kita akan menghadapi sebuah konflik dengan mengamati sistem yang berjalan dalam hubungan kita
b. Time conflict effectively
Tiga cara untuk membuat manajemen konflik menjadi efektif : jangan berkonflik dengan orang yang sedang tidak fit; kalau ingin berdiskusi, pilih waktu saat kedua pihak sudah siap berdiskusi; lalu yang ketiga adalah bracketing atau fokus pada problem utama.
c. Aim for win-win conflict
Apabila konflik terjadi pada dua orang yang saling menyayangi, maka buatlah hasil akhir konflik itu win-win oriented.
d. Honor yourself, your partner and the relationship
Tidak mungkin terjadi komunikasi yang efektif jika kita tidak menghargai partner kita, atau diri kita sendiri
e. Show grace when appropriate
Grace : memaafkan orang lain atau mengesampingkan kebutuhan kita kalau tidak ada peraturan yang mengharuskan demikian. Grace bisa memadamkan kemarahan, emosi, dll.

TECHNOLOGICAL DETERMINISM vs SOCIAL CONSTRUCTION OF TECHNOLOGY

TECHNOLOGICAL DETERMINISM

Technological determinism is a reductionist doctrine that a society’s technology determines its cultural values, social structure, or history. This is not to be confused with the inevitability thesis (Chandler), which states that once a technology is introduced into a culture that what follows is the inevitable development of that technology.
Technological determinism has been summarized as ‘The belief in technology as a key governing force in society …’ (Merritt Roe Smith), ‘… the belief that social progress is driven by technological innovation, which in turn follows an “inevitable” course.’ (Michael L. Smith), ‘The idea that technological development determines social change …’ (Bruce Bimber), ‘… the belief that technical forces determine social and cultural changes.’ (Thomas P. Hughes); ‘… a three-word logical proposition: “Technology determines history”‘ (Rosalind Williams)
The term is believed to have been coined by Thorstein Veblen (1857-1929), an American sociologist.
Most interpretations of technological determinism share two general ideas:
* that the development of technology itself follows a predictable, traceable path largely beyond cultural or political influence, and
* that technology in turn has “effects” on societies that are inherent, rather than socially conditioned or that the society organizes itself in such a way to support and further develop a technology once it has been introduced.
Technological determinism stands in opposition to the theory of the social construction of technology, which holds that both the path of innovation and the consequences of technology for humans are strongly if not entirely shaped by society itself, through the influence of culture, politics, economic arrangements, and the like.
Technological determinism has been largely discredited within academia, especially by science and technology studies.[citation needed] However, it remains the dominant view within most news media and popular culture.[citation needed]


Pessimism towards techno-science arose after the mid 20th century for various reasons including the use of nuclear energy towards nuclear weapons, Nazi human experimentation during World War Two, and lack of economic development in the third world (also known as the global south). As a direct consequence, desire for greater control of the course of development of technology gave rise to disenchantment with the model of technological determinism in academia and the creation of the theory of technological constructivism (see social construction of technology).

HARD AND SOFT
In examining determinism we should also touch upon Aslam Mamu and the idea of Hard determinism and Soft Determinism. A compatibilist says that it is possible for free will and determinism to exist in the world together while a incompatibilist would say that they can not and there must be one or the other. Those who support determinism can be further divided.
Hard determinists would view technology as developing independent from social concerns. They would say that technology creates a set of powerful forces acting to regulate our social activity and its meaning. According to this view of determinism we organize ourselves to meet the needs of technology and the outcome of this organization is beyond our control or we do not have the freedom to make a choice regarding the outcome.
Soft Determinism, as the name suggests, is a more passive view of the way technology interacts with socio-political situations. Soft determinists still subscribe to the fact that technology is the guiding force in our evolution, but would maintain that we have a chance to make decisions regarding the outcomes of a situation. This is not to say that free will exists but it is the possible for us to roll the dice and see what the outcome is. A slightly different variant of soft determinism is the 1922 technology-driven theory of social change proposed by William Fielding Ogburn, in which society must adjust to the consequences of major inventions, but often does so only after a period of cultural lag.

CRITICISM
Modern thinkers no longer consider technological determinism to be a very accurate view of the way in which we interact with technology. In his article “Subversive Rationalization: Technology, Power and Democracy with technology.” Andrew Feenberg argues that technological determinism is not a very well founded concept by illustrating that two of the founding theses of determinism are easily questionable and in doing so calls for what he calls democratic rationalization (Feenberg 210-212).
In his article “Do Artifacts Have Politics?,” Langdon Winner transcends hard and soft technological determinism by elaborating two ways in which artifacts can have politics.
Another conflicting idea is that of technological somnambulism a term coined by Winner in his essay “technology as forms of life”. Winner wonders whether or not we are simply sleepwalking through our existence with little concern or knowledge as to how we truly interact with technology. In this view it is still possible for us to wake up and once again take control of the direction in which we are traveling (Winner 104).

EXAMPLES
The telegraph and newspaper stories
These are all effects of telephone technology which we can all readily think of. And there are many other communication technologies with fairly readily discernible effects. One intriguing example is the effect the telegraph supposedly had on the shape of newspaper stories. As you’ll probably know, the typical shape of a newspaper story is the so-called ‘inverted triangle’, quite different from the shape of, say, a detective story in which the answer to who? Is conventionally reserved for the end of the story. In a typical newspaper story, the questions Who? What? Where? When? and perhaps How? and Why? are conventionally answered in the first paragraph and then fleshed out in the ensuing paragraphs. You can even often see this ‘inverted triangle’ quite literally in the shape of the articles, especially if it’s a front page story. The headline ‘MUGGERS ATTACK PENSIONER’ may span three columns. The paragraph below the headline, typically in bold, may also span three columns: A pensioner in her seventies was mercilessly kicked and trampled by a gang of youths in broad daylight yesterday. The brutal attack took place in a London street just after the pensioner had collected her pension from the local post office. The ensuing paragraphs may occupy two or only one column as further details are given, including the pensioner’s name, her age, a description of her attackers and so on. This structure is, of course, very convenient for the reader. It allows us to scan the paper for interesting articles very rapidly. If a headline catches our eye, we can quickly run through the first paragraph to see if the article is likely to interest us. If not, we can turn our attention to something else. There is a suggestion, though, that it was not consideration of the reader’s convenience which gave rise to this structure. If you look at newspapers from the eighteenth or early nineteenth century, you’ll see that they have a pretty conventional narrative structure, quite unlike today’s ‘inverted triangle’. It is said that the modern structure developed out of the American Civil War. By that time, newspapers in the west of the USA were receiving news via Western Union’s telegraph lines from the recently formed agencies in the east. For the first time, news from the political decision makers, news of powerful people, news of major technological and commercial developments, as well as international news was appearing in newspapers in the west. During the war, however, the telegraph wires were constantly being cut as each side tried to disrupt the other’s lines of communication. If your news item has a conventional narrative structure, a large chunk can go missing if the wires are cut early in the transmission. The readership’s recently aroused interest in national and international news is disappointed and the agency runs the risk of losing its press customers because only a part of the news is getting through. As a result, the agencies adopted a new structure which would ensure that at least the bare bones of the story got through, then a bit more detail, then a bit more and so on, thus allowing for the possibility of disruption.
Perfect binding and pulp fiction
That’s a fairly clear example of a technological effect on communication, though I rather suspect it’s not the whole story. There are others we might suspect, though it would be difficult, I think, to find clear evidence. Consider for example the romantic novel, the detective novel and the western novel. The last two of these are pretty dead now, though the first is still very much alive and kicking. They probably became so dominant in popular fiction as the publishers responded to the invention of ‘perfect binding’, i.e. binding books using glue, rather than the time-consuming and expensive procedure of binding books sewn in separate ‘signatures’. Quite suddenly, a cheap method of mass production became available to publishers, who were naturally keen to exploit the extra capacity. They now had the possibility of mass production for a mass public and, of course, were only too happy to develop ‘formulas’ which worked with their new, relatively poor and relatively poorly educated, readership and so the formulaic novel was born. Was the sudden development of pulp fiction due to ‘technology push’, was it due to the capitalist mode of publishing, or was it due to ‘consumer pull’?
The printing press
Could we have mass literacy without mass publications? Could the French Revolution have taken place without the spread of radical ideas through the ‘philosophes” books and, perhaps more importantly, illegal pamphlets? Would we now have the image we do of the Spanish Inquisition if the supporters of the Reformation had not been so successful in disseminating their anti-Catholic propaganda? Could the Renaissance have taken place without the rapid spread of knowledge? And, of course, the question underlying all of those questions is: could any of those events have taken place without the invention of movable type by Gutenberg in the middle of the fifteenth century?
Transport systems
Stefik (1999) describes how the development of roads and railways in France between 1870 and 1914 turned ‘peasants into Frenchmen’ in the space of forty years. Until after the middle of the nineteenth century most French citizens’ life was limited to their immediate vicinity – their village and the occasional trip to the local market town. In winter, most local roads became almost completely impassable. After 1881, when a law was passed to promote the building of rural roads, the villages became interconnected, the peasants thus becoming less reliant on the local market town for the sale of their produce and therefore less at the mercy of the tradespeople in the towns who knew that they had probably spent hours transporting their produce to the towns and would have to sell it before it went rotten. The railways connected the major towns, which were now within much easier reach of the peasants. This, together with the spread of public education, which gave them new skills in reading, writing and arithmetic enabled them to start shipping and receiving goods on their own account, becoming less dependent on the big merchants. Stefik says that, as a rule of thumb, productivity in any area served by a railway grew tenfold and industries grew and prospered as France started to function as a unified marketplace. It is, of course, not the mere increase in the posssibilities for movement of goods and people which brought about this rapid change, but also and perhaps more importantly the increased opportunities for the dissemination of information and ideas – Stefik refers to the transportation system as having transformed France into a ‘marketplace for memes’.
Computers
Currently, of course, there is speculation about the way that information and communication technologies (ICTs) may be determining our world, its social structures and economies, as well as individual consciousness. As with any new technology, the debate is frequently couched in alarmist and reactionary terms. In the college where I work, for example – and I suppose it’s not at all atypical – concern is frequently expressed that computers connected to the Internet are being ‘abused’ by students, who, rather than concentrating consistently on the mind-numbing exercises they are required to complete to achieve their certificates in information technology, are often delving into chatrooms, games cheats, SMS messaging services and the like. I imagine that late-fifteenth century monks may have been similarly concerned that novices kept sneaking a look into printed books rather than getting on with their illuminated manuscripts. It seems a little odd that in education the instinctive reaction to what may be the greatest communications revolution since the invention of movable type is to ban it. If lecturers were able to display half the intellectual curiosity and mental plasticity of their students, they’d be examining ways to turn the technology to educational advantage.
I have dealt with information technology’s putative effects on society and the economy in the article on information technology and society. Concern is also expressed that computers may be affecting consciousness (compare with McLuhan’s claims for the effect of print on consciousness (below)). It is suggested that some young people who spend much of their time in chat rooms and other simulated environments may be developing’ multiple personae’, a sort of fragmented self, or rather a variety of possible selves which are discarded and assumed as appropriate to negotiate the variety of virtual worlds they explore. The fear is that this fragmentation will lead computer users to experience life as a series of disconnected narratives rather than as something fundamentally grounded in shared social experience, with that experience’s attendant shared values and beliefs. I don’t know whether that’s happening or not and it will surely be some time before studies can be appropriately framed to attempt to determine whether it’s happening. But, even if it is, I don’t see why that’s necessarily a negative development. As my own children were going through school, I was hugely impressed by their ability to watch a soap, listen to a CD, hold a telephone conversation all at the same time and still complete their homework satisfactorily. If kids are to negotiate the cyberblitz more effcetively than I manage, then surely this is appropriate experience. Management gurus have been telling us for decades now of the importance of creativity, flexible response, cooperation, systems thinking and problem solving. If kids are growing up in a networked society and if, as predicted by many commentators, it is being networked which will provide the key to success in the emerging economies, then surely kids need to develop the skills of networking, rather than being forced to concentrate separately each on his or her own little assignment.

Those are all examples of a form of communication technology having an effect on the way we communicate. It might seem pretty obvious that there must be an effect. After all, you might think, we wouldn’t have gone ahead and invented and then developed these technologies if they were not going to have some effect. It’s as well to bear in mind, though, that the development and ultimate use of the technologies often takes surprising routes and ends up in quite unexpected places. The major impact of the automobile on our cities and towns, whose centres atrophy while people move into the leafy suburbs and shop at out-of-town hypermarkets would have been impossible to predict. After all, it’s not all that long ago that the head of IBM predicted that the world would need five or six computers. And it’s also not too long ago that it was envisaged that the telephone would be used mainly for public broadcasting (as indeed it was in Hungary until the 30s). It is difficult also to determine with any certainty whether a new form of communication pre-dates the development of the technology or vice-versa. For example, it would seem obvious that the consumer revolution of the nineteenth and twentieth centuries could not have happened without the industrial revolution, but Storey (1997) points out that there is a growing revisionist account which suggests that a consumer revolution was under way before the industrial revolution. So, here, as always, it seems it is as well not to rely too heavily on common sense.

SOCIAL CONSTRUCTION OF TECHNOLOGY

Social construction of technology (also referred to as SCOT) is a theory within the field of Science and Technology Studies (or Technology and society). Advocates of SCOT — that is, social constructivists — argue that technology does not determine human action, but that rather, human action shapes technology. They also argue that the ways in which a technology is used cannot be understood without understanding how that technology is embedded in its social context. SCOT is a response to technological determinism and is sometimes known as technological constructivism.
SCOT draws on work done in the constructivist school of the sociology of scientific knowledge, and its subtopics include actor-network theory (a branch of the sociology of science and technology) and historical analysis of sociotechnical systems Thomas P. Hughes. Leading adherents of SCOT include Wiebe Bijker and Trevor Pinch.
SCOT holds that those who seek to understand the reasons for acceptance or rejection of a technology should look to the social world. It is not enough, according to SCOT, to explain a technology’s success by saying that it is “the best” — researchers must look at how the criteria of being “the best” is defined and what groups and stakeholders participate in defining it. In particular, they must ask who defines the technical criteria by which success is measured, why technical criteria are defined in this way, and who is included or excluded.
SCOT is not only a theory, but also a methodology: it formalizes the steps and principles to follow when one wants to analyze the causes of technological failures or successes.

LEGACY OF THE STRONG PROGRAMME IN THE SOCIOLOGY OF SCIENCE
At the point of its conception, the SCOT approach was partly motivated by the ideas of the Strong Programme in the Sociology of Science (Bloor 1973). In their seminal article, Pinch and Bijker refer to the Principle of Symmetry as the most influential tenet of the Sociology of Science, which should be applied in historical and sociological investigations of technology as well. It is strongly connected to Bloor’s theory of social causation.

SYMMETRY
The Principle of Symmetry holds that in explaining the origins of scientific beliefs, that is, assessing the success and failure of models, theories, or experiments, the historian / sociologist should deploy the same kind of explanation in the cases of success as in cases of failure. When investigating beliefs, researchers should be impartial to the (a posteriori attributed) truth or falsehood of those beliefs, and the explanations should be unbiased. The strong programme adopts a position of relativism or neutralism regarding the arguments that social actors put forward for the acceptance/rejection of any technology. All arguments (social, cultural, political, economic, as well as technical) are to be treated equally.
The symmetry principle addresses the problem that the historian is tempted to explain the success of successful theories by referring to their “objective truth”, or inherent “technical superiority”, whereas s/he is more likely to put forward sociological explanations (citing political influence or economic reasons) only in the case of failures. For example, having experienced the obvious success of the chain-driven bicycle for decades, it is tempting to attribute its success to its “advanced technology” compared to the “primitiveness” of the Penny Farthing, but if we look closely and symmetrically at their history (as Pinch and Bijker do), we can see that at the beginning bicycles were valued according to quite different standards than nowadays. The early adopters (predominantly young, well-to-do gentlemen) valued the speed, the thrill, and the spectacularity of the Penny Farthing – in contrast to the security and stability of the chain-driven Safety Bicycle. Many other social factors (e.g., the contemporary state of urbanism and transport, women’s clothing habits and feminism) have influenced and changed the relative valuations of bicycle models.
A weak reading of the Principle of Symmetry would point out that there often are many competing theories or technologies, which all have the potential to provide slightly different solutions to similar problems. In these cases the sociological factors are those, which tip the balance between them: that’s why we should pay equal attention to them.
A strong, social constructivist reading would add that even the emergence of the questions or problems to be solved are governed by social determinations, so the Principle of Symmetry is applicable even to the apparently purely technical issues.

CORE CONCEPTS

Interpretative Flexibility
Interpretative Flexibility means that each technological artifact has different meanings and interpretations for various groups. Bijker and Pinch show that the air tire of the bicycle meant a more convenient mode of transportation for some people, whereas it meant technical nuisances, traction problems and ugly aesthetics to others. Sport cyclists were concerned by the speed reduction caused by the air tire.
These alternative interpretations generate different problems to be solved. Aesthetics, convenience or speed should be priorized? What is the best tradeoff between traction and speed?
For example, in early personal computing, computer literacy educators argued for easy-to-use “closed architecture” machines, with color displays, that would keep children engaged (and prevent them from meddling). In contrast, hobbyists, who were later supported by those who foresaw business uses for PCs, argued for user-upgradable “open architecture” machines, with monochrome displays. From SCOT’s perspective, these are actually different artifacts rather than competing versions of the same artifact. Stabilization occurred as the result of a compromise, embodied in the design of the 1977 Apple II and the 1981 IBM Personal Computer: an open architecture design equipped with a video system capable of reproducing color graphics as well as monochrome text.

Relevant Social Groups
According to Pinch and Bijker (1987, 30) a relevant social group consists of “all members of a certain social group [who] share the same set of meanings, attached to a specific artifact; recall that, during the period of interpretive flexibility, SCOT sees the various alternative designs as distinct artifacts in themselves. In SCOT’s initial formulation, this definition is quite vague — deliberately so, because a major part of the analyst’s task lies in identifying and defining the groups who actually participate in the design process.
The most basic relevant groups are the users and the producers of the technological artifact, but most often many subgroups can be delineated – users with different socioeconomic status, competing producers, etc. Sometimes there are relevant groups who are neither users, nor producers of the technology – journalists, politicians, civil groups, etc. (Just think of inter-continental ballistic missiles, for example) The groups can be distinguished based on their shared or diverging interpretations of the technology in question.

Design Flexibility
Just as technologies have different meanings in different social groups, there are always multiple ways of constructing technologies. A design is only a single point in the large field of technical possibilities, reflecting the interpretations of certain relevant groups.

Problems and Conflicts
The different interpretations often give rise to conflicts between criteria that are hard to resolve technologically (in the case of the bicycle, one such problem was: how can women ride the bicycle decently, in skirt?), or conflicts between the relevant groups (the “Anti-cyclists” lobbied for the banning of the bicycles). Different groups in different societies construct different problems, leading to different designs.
The first stage of the SCOT research methodology is to reconstruct the alternative interpretations of the technology, analyze the problems and conflicts these interpretations give rise to, and connect them to the design features of the technological artifacts. The relations between groups, problems, and designs can be visualized in diagrams.

Closure
Over time, as technologies are developed, the interpretative and design flexibility collapse through closure mechanisms. Two examples of closure mechanisms:
1. Rhetorical Closure: When social groups see the problem as being solved, the need for alternative designs diminishes. This is often the result of advertising.
2. Redefinition of the Problem: A design standing in the focus of conflicts can be stabilized by inventing a new problem, which is solved by this very design. The aesthetic and technical problems of the air tire diminished, as the technology advanced to the stage where air tire bikes started to win the bike races. Tires were still considered cumbersome and ugly, but they provided a solution to the “speed problem”, and this overrode previous concerns.
Closure is not permanent. New social groups may form and reintroduce interpretative flexibility, causing a new round of debate or conflict about a technology. (For instance, in the 1890s automobiles were seen as the “green” alternative, a cleaner environmentally-friendly technology, to horse-powered vehicles; by the 1960s, new social groups had introduced new interpretations about the environmental effects of the automobile)
The second stage of the SCOT methodology is to show how closure is achieved.

Relating the content of the technological artifact to the wider sociopolitical milieu
This is the third stage of the SCOT methodology, but the seminal article of Pinch and Bijker does not proceed to this stage. Many other historians and sociologists of technology nevertheless do. For example, Paul N. Edwards shows in his book “The Closed World: Computers and the Politics of Discourse in Cold War America” [1] the strong relations between the political discourse of the Cold War and the computer designs of this era.

CRITICISM
In 1993, Langdon Winner published an influential critique of SCOT entitled “Upon Opening the Black Box and Finding it Empty: Social Constructivism and the Philosophy of Technology.” In it, he raises a few problems with social constructivism:
1. It explains how technologies arise, but ignores the effects of the technology after the fact.
2. It is a social construction of knowledge in itself, subject to the same limitations as it postulates (“Who says what are relevant social groups and social interests?”)
3. It disregards dynamics which are not due to its “preferred conceptual strawman: technological determinism.”
Other critics include Stewart Russell with his letter in the journal “Social Studies of Science” titled “The Social Construction of Artifacts: A Response to Pinch and Bijker”

Source : Wikipedia, Mick Underwood, STS Wiki

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
Teori Behavioristik:


1. Mementingkan faktor lingkungan
2. Menekankan pada faktor bagian
3. Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
4. Sifatnya mekanis
5. Mementingkan masa lalu

A. Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme
Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903), Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book (1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940).
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.
Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya.
Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.
Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
1. Hukum Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskanPrinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.
Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain.
Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.

2. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
3. Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.

Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto, 1984).
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:
a. Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response).
Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
b. Hukum Sikap ( Set/ Attitude).
Hukum ini menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya.
c. Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element).
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon selektif).
d. Hukum Respon by Analogy.
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.
e. Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.

Selain menambahkan hukum-hukum baru, dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum Belajar antara lain :
1. Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
2. Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
3. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
4. Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.
Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of training, yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.
B. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936).
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927).
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985).
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kin sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.
Makanan adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnys air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.
Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia.
Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan.

Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehar-jhari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lai adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

C. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).
Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970)
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut :
Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yangdapat diatur nyalanya, dan lantai yanga dapat dialir listrik. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Beberapa prinsip Skinner antara lain :
1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika bebar diberi penguat.
2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
4. Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untukmenghindari adanya hukuman.
5. dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.
7. Dalam pembelajaran digunakan shaping.

D. Robert Gagne ( 1916-2002).
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional.
Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkanpada yanglebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi(belajar aturan danpemecahan masalah). Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon.

E. Albert Bandura (1925-masih hidup).
Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondare alberta berkebangsaan Kanada. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.

Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi adalah:
1. Perhatian, mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat.
2. Penyimpanan atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik.
3. Reprodukdi motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4. Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut:
1. Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.
2. Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
3. Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.

Karena melibatkan atensi, ingatan dan motifasi, teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana memodifikasi perilaku.
Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.

Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
a. Mementingkan pengaruh lingkungan
b. Mementingkan bagian-bagian
c. Mementingkan peranan reaksi
d. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
e. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks.

Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.
Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat tidak berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti :
Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.

APLIKASI EMPAT MACAM POLA PENGETAHUAN DALAM MEMECAHKAN MASALAH KOMUNIKASI

Pendahuluan
Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya. Biasanya dibedakan tiga macam pengetahuan, yaitu pengetahuan/tahu bahwa, pengetahuan/tahu bagaimana, dan pengetahuan/tahu akan. Tetapi kemudian ditambahkan satu lagi pengetahuan yang serumpun, yaitu pengetahuan/tahu mengapa.
Tahu bahwa adalah pengetahuan tentang informasi tertentu, tahu bahwa sesuatu terjadi, tahu bahwa ini atau itu memang demikian adanya, bahwa apa yang dikatakan memang benar.
Tahu bagaimana menyangkut bagaimana melakukan sesuatu, yang lebih dikenal dengan know how. Pengetahuan ini berkaitan dengan keterampilan atau lebih tepat keahlian dan kemahiran teknis dalam melakukan sesuatu.
Tahu akan/mengenai adalah sesuatu yang sangat spesifik menyangkut pengetahuan akan sesuatu atau seseorang melalui pengalaman atau pengenalan pribadi.
Tahu mengapa merupakan pengetahuan paling tinggi dan mendalam sekaligus juga merupakan pengetahuan ilmiah. Tahu mengapa berkaitan dengan “tahu bahwa”, tapi mendalami masalah dengan lebih serius dan kritis karena berkaitan dengan penjelasan. Tahu mengapa mengaitkan dan menyusun hubungan-hubungan tak kelihatan antara berbagai informasi yang ada untuk memperoleh informasi baru yang akan menyingkapkan pengetahuan lebih mendalam.


Rumusan Masalah

Suatu keluarga selalu disharmonis, bertengkar dan kisruh. Bagaimana aplikasi empat macam pola pengetahuan tersebut dalam memecahkan masalah komunikasi ini?

Pembahasan

Seperti pada skema di atas, hal pertama yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut adalah mengetahui secara langsung apa yang terjadi dengan keluarga itu (tahu akan). Artinya, kita sendiri harus melakukan kontak langsung dengan keluarga itu dan melihat secara pasti apa yang terjadi, misalnya dengan cara berkunjung ke rumah mereka atau berhubungan melalui media seperti telepon, sms, email, surat atau yang lainnya yang memungkinkan kita mendapat informasi langsung dari anggota keluarga tersebut.
Dari pengamatan tadi, kita tahu secara umum apa yang terjadi dengan keluarga itu (tahu bahwa), yaitu ketidakharmonisan. Tapi sekedar tahu saja tidak cukup. Kita perlu mempelajari masalah ketidakharmonisan ini lebih lanjut untuk mendapatkan penjelasan atas ketidakharmonisan tersebut dan cara-cara memecahkannya. Dari sini kita bisa mencari informasi yang berhubungan dengan ketidakharmonisan keluarga melalui media-media penyedia informasi semisal buku, koran, majalah, internet, dan sebagainya.
Setelah informasi yang dikumpulkan cukup, yang perlu dilakukan adalah mengaitkan dan menyusun hubungan-hubungan tak kelihatan antara berbagai informasi yang ada untuk memperoleh informasi baru yang akan menyingkapkan masalah ketidakharmonisan itu lebih mendalam (tahu mengapa). Disinilah kita akan menemukan titik terang dari masalah ketidakharmonisan tersebut.
Ternyata intinya adalah minimnya komunikasi antar anggota keluarga sehingga kerap menimbulkan kesalahpahaman. Akibatnya, dalam keluarga itu sering terjadi pertentangan yang berujung pada ketidakharmonisan. Untuk memecahkan masalah ini, diperlukan diskusi keluarga, yaitu semua anggota keluarga berkumpul dan membicarakan masalah masing-masing dari hati ke hati. Saat salah satu anggota keluarga berbicara, yang lain mendengarkan. Juga diperlukan pengertian yang tinggi dan tenggang rasa di antara mereka. Setelah diskusi antar anggota keluarga selesai, ada baiknya dilanjutkan dengan memperbaiki metode berkomunikasi selama ini. Hal-hal yang membuat komunikasi tidak nyaman segera diubah. Frekuensi berkomunikasi juga harus ditingkatkan.
Bila setelah hal itu dilakukan tetap tidak ada perubahan, mintalah saran pada ahli yang kompeten, misalnya psikolog/psikiater untuk melakukan mediasi. Diharapkan dengan cara seperti ini masalah bisa selesai. Apabila yang terburuk terjadi, yaitu tetap tidak ada penyelesaian, maka berpisah mungkin adalah jalan yang terbaik.
Tapi semua teori di atas percuma saja jika tidak diterapkan. Disinilah kegunaan “pengetahuan bagaimana”. Setelah mendapatkan asumsi teoretis, maka sekarang saatnya mengaplikasikannya dalam tindakan. Dengan demikian, terpecahnya masalah bukan sekedar angan-angan, tapi benar-benar terwujud. Hanya dengan dipraktekkanlah, maka kita bisa tahu apakah teori-teori tadi bisa berhasil di dunia nyata.
Jadi langkah awal adalah benar-benar mengadakan diskusi keluarga. Hasil dari diskusi itu menentukan langkah berikutnya. Jika berhasil, maka yang perlu dilakukan selanjutnya adalah menerapkan metode komunikasi yang lebih baik, misalnya lebih sering bertukar kabar dengan anggota keluarga lainnya baik melalui pertemuan secara langsung maupun tidak langsung (melalui telepon, sms, email, dan lain-lain) untuk menjaga hubungan baik.
Namun jika dari diskusi itu tidak ditemukan jalan keluar, maka segeralah menemui psikolog/psikiater. Berkonsultasilah agar masalah terpecahkan. Jika belum berhasil juga, maka jangan ragu untuk memilih berpisah. Karena bisa jadi itu merupakan solusi terbaik. Dengan demikian, masalah ketidakharmonisan tadi bisa dipecahkan.

Penutup
Keempat macam pola pengetahuan tersebut, yaitu tahu akan, tahu bahwa, tahu bagaimana dan tahu mengapa, memiliki hubungan yang sangat erat. Keempatnya saling menunjang satu sama lain dan saling berkaitan untuk membantu manusia sampai pada pengetahuan yang lebih baik dan sempurna. Dengan menerapkan empat macam pola pengetahuan di atas, maka masalah ketidakharmonisan keluarga bisa dipecahkan. Itu membuktikan bahwa pengetahuan sangat berguna dan merupakan salah satu sarana untuk memecahkan masalah manusia. Apabila kita sungguh-sungguh menggali pengetahuan, maka hidup kita akan lebih baik.

KEPUTUSAN, PEMBALIKAN, SERTA PERLAWANAN

• Keputusan
Keputusan adalah suatu perbuatan tertentu dari manusia. Dalam dan dengan perbuatan itu dia mengakui atau memungkiri kesatuan dan hubungan antar dua hal.
Unsur-unsur keputusan :
• Subyek (sesuatu yang diberi keterangan)
• Predikat (sesuatu yang menerangkan tentang subyek)
• Kata penghubung (pernyataan yang mengakui atau memungkiri hubungan antara subyek dan predikat)
Subyek dan predikat adalah materi keputusan, sedang kata penghubung (unsur terpenting) adalah bentuk, formanya.
Macam-macam keputusan


1. Berdasarkan sifat pengakuan dan pemungkirannya dibedakan menjadi
• Keputusan kategoris : predikat menerangkan subyek tanpa syarat. Masih dibagi lagi menjadi:
- Keputusan kategoris tunggal (memuat satu subyek dan satu predikat)
- Keputusan kategoris majemuk (memuat lebih dari satu subyek dan predikat)
- Susunan kata yang menyatakan modalitas, seperti : tentu, niscaya, tidak tentu, dll.
• Keputusan hipotetis : predikat menerangkan subyek dengan syarat. Dibagi menjadi :
- Keputusan (hipotetis) kondisional : ditandai dengan “jika…. maka…”
- Keputusan (hipotetis) disyungtif : ditandai dengan “atau…atau…”
- Keputusan (hipotetis) konyungtif : ditandai dengan “tidak sekaligus… dan…”
Untuk sementara, yang akan dibahas adalah keputusan kategoris tunggal. Pembagian keputusan ini sebagai berikut:
• Berdasarkan materinya:
Keputusan analitis (predikat menyebut sifat hakiki yang pasti dalam subyek) dan keputusan sintetis (predikat menyebut sifat yang tidak hakiki)
• Berdasarkan bentuknya :
keputusan positif (afirmatif) dan negatif
• Berdasarkan luasnya :
Keputusan universal (predikat menerangkan seluruh luas subyek), partikular (predikat menerangkan sebagian dari seluruh luas subyek), dan singular (predikat menerangkan satu barang dengan tegas)
Keputusan A, E, I, O

Berdasarkan bentuk dan luasnya, keputusan dibedakan menjadi :
• Keputusan A : Keputusan afirmatif (positif) dan universal (singular)
Contoh : Semua pelajar SMAN 1 Surabaya lulus Ujian Nasional
• Keputusan E : Keputusan negatif dan universal (singular)
Contoh : Semua yang mati tidak bisa dihidupkan lagi
• Keputusan I : Keputusan afirmatif (positif) dan partikular
Contoh : Beberapa mahasiswa melakukan study tour ke Aceh
• Keputusan O : Keputusan negatif dan partikular
Contoh : Beberapa dosen tidak suka memberi ceramah

• Pembalikan dan Perlawanan
Pembalikan
Membalikkan adalah mengganti subyek dan predikat, sehingga yang dulunya subyek menjadi predikat, dan sebaliknya tanpa mengurangi kebenaran keputusan itu. Ada pembalikan seluruhnya (contoh : keputusan E menjadi E) atau pembalikan sebagian (contoh : keputusan A menjadi menjadi I).
Hukum-hukum pembalikan :
• Keputusan A hanya boleh dibalik menjadi keputusan I
Contoh : Semua mawar adalah bunga hanya bisa dibalik menjadi beberapa bunga adalah mawar, bukan semua bunga adalah mawar
• Keputusan E selalu bisa dibalik
Contoh : Semua kancil bukan tumbuhan bisa dibalik menjadi semua tumbuhan bukan kancil atau beberapa tumbuhan bukan kancil
• Keputusan I hanya dapat dibalik menjadi keputusan I lagi
Contoh : Beberapa sepeda itu rusak dapat dibalik menjadi beberapa yang rusak itu sepeda
• Keputusan O tidak dapat dibalik
Contoh : Beberapa orang tidak jatuh tidak dapat dibalik menjadi Beberapa yang jatuh tidak (bukan) orang

Perlawanan
Keputusan yang berlawanan adalah keputusan yang tidak dapat sama-sama benar atau sama-sama salah.
Macam-macam perlawanan :
• Menurut bentuknya : perlawanan kontraris dan subkontraris
• Menurut luasnya : perlawanan subaltern
• Baik bentuk maupun luas : perlawana kontradiktif

sumber: OFM, Alex Lanur. 1983. Logika : Selayang Pandang. Yogyakarta : Kanisius

NILAI

Sejumlah ahli ilmu pengetahuan yang tertarik dengan tingkah laku manusia, sejak lama telah tertarik dengan konsep nilai (mis, Kluckhohn, 1951; Allport, 1960; Rokeach, 1973; Schwartz, 1992, 1994; Feather, 1994, 1995). Kluckhohn (dalam Zavalloni, 1975) sebagai seorang antropolog, misalnya, sejak tahun 1951 telah mendefinisikan nilai sebagai :
“… a conception explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of the desirable which influence the selection from available modes, means and ends of action.” (Kluckhohn dalam Zavalloni, 1975, hal. 75)


Isu penting yang menurut Zavalloni (1975) perlu diperhatikan dalam pemahaman tentang nilai adalah, nilai seseorang dapat sama seperti nilai semua orang lainnya, sama dengan sebagian orang, atau tidak sama dengan semua orang lain. Definisi Kluckhohn di atas menggambarkan bahwa nilai selain mewakili keunikan individu, juga dapat mewakili suatu kelompok tertentu. Hal ini mulai mengarah kepada pemahaman nilai yang universal. Dalam perkembangannya, Rokeach (1973) dengan tegas mengatakan bahwa asumsi dasar dari konsep nilai adalah bahwa setiap orang, di mana saja, memiliki nilai-nilai yang sama dengan derajat yang berbeda (menunjukkan penegasan terhadap konsep universalitas nilai). Namun penelitian yang paling komprehensif tentang nilai-nilai yang universal (dalam arti terdapat di mana saja di semua budaya) dimulai oleh Schwartz dan Bilsky (1987). Mereka mulai mencari nilai-nilai apa yang universal dari 44 negara dengan sampel di masing-masing negara berkisar antara 154 sampai dengan 542 orang.
Isu lain yang penting sebelum membahas nilai adalah tentang isi (content) dari berbagai nilai yang dianut manusia. Berdasarkan kajiannya atas berbagai teori dari para ahli mengenai nilai, Schwartz melihat tidak satupun dari teori tersebut yang berupaya mengklasifikasikan isi atau muatan (content) dari berbagai nilai yang dianut oleh individu (Schwartz, 1994). Schwartz kemudian berupaya untuk mengklasifikasikan nilai-nilai berdasarkan muatannya yang kemudian disebut dengan tipe nilai. Dengan mempertimbangkan universalitas, isi maupun struktur nilai yang telah dikembangkan Schwartz, maka dalam penelitian ini kerangka teori yang digunakan adalah teori nilai dari Schwartz. Walaupun begitu, pembahasannya tidak terlepas dari tokoh-tokoh lain yang juga tertarik dengan nilai, terutama menyangkut kaitan nilai dengan variabel lain seperti keyakinan, sikap dan tingkah laku yang tidak dibahas lagi oleh Schwartz. Ini menyebabkan dasar teoritis dalam mengkaitkan nilai dan tingkah laku menggunakan teori lain, yaitu belief system theory (Rokeach, 1973; Homer &Kahle, 1988; Grube dkk., 1994).
Teori nilai Schwartz (1992, 1994), walaupun masih berdasarkan teori sebelumnya dari Rokeach (1973), tapi menunjukkan perbedaan yang berarti. Teori nilai Schwartz dipilih dalam penelitian ini, memperhatikan kritiknya terhadap teori Rokeach yang banyak melakukan tumpang-tindih antara nilai satu dengan nilai lainnya (Schwartz, 1994), bahkan antara nilai terminal dan instrumental. Sedangkan Schwartz telah melakukan pengkategorisasian ke dalam sejumlah tipe nilai, dimana kategori tersebut telah teruji secara konseptual maupun statistik. Di samping itu, Schwartz juga telah menyusun struktur nilai-nilai tersebut secara spesifik dan komprehensif, sehingga nilai seseorang dapat ditempatkan ke dalam “peta” nilai. Berbeda dengan Rokeach yang menyebut nilai sebagai sistem, namun tidak terlalu banyak menjelaskan hubungan dan sifat dari sistem tersebut. Sedangkan dengan “peta” nilai, kita dapat melihat keterkaitan suatu nilai dengan nilai lainnya, sekaligus dapat menginterpretasi hubungan tersebut.


Pengertian Nilai (human values)

Untuk memahami pengertian nilai secara lebih dalam, berikut ini akan disajikan sejumlah definisi nilai dari beberapa ahli.
• “Value is a general beliefs about desirable or undesireable ways of behaving and about desirable or undesireable goals or end-states.” (Feather, 1994 hal. 184)
• Menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara fungsional.
• Nilai adalah patokan normatif yang memengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif (Kupperman, 1983).
• “Value is an enduring belief that a specific mode of conduct or end-state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end-state of existence.” (Rokeach, 1973 hal. 5)
• Menurut Dictionary dalam Winataputra (1989), nilai adalah harga atau kualitas sesuatu.
• “Value as desireable transsituatioanal goal, varying in importance, that serve as guiding principles in the life of a person or other social entity.” (Schwartz, 1994 hal. 21)
Lebih lanjut Schwartz (1994) juga menjelaskan bahwa nilai adalah (1) suatu keyakinan, (2) berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir tertentu, (3) melampaui situasi spesifik, (4) mengarahkan seleksi atau evaluasi terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta (5) tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, terlihat kesamaan pemahaman tentang nilai, yaitu (1) suatu keyakinan, (2) berhubungan dengan cara bertingkah laku dan tujuan akhir tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.
Pemahaman tentang nilai tidak terlepas dari pemahaman tentang bagaimana nilai itu terbentuk. Schwartz berpandangan bahwa nilai merupakan representasi kognitif dari tiga tipe persyaratan hidup manusia yang universal, yaitu :
1. kebutuhan individu sebagai organisme biologis
2. persyaratan interaksi sosial yang membutuhkan koordinasi interpersonal
3. tuntutan institusi sosial untuk mencapai kesejahteraan kelompok dan kelangsungan hidup kelompok (Schwartz & Bilsky, 1987; Schwartz, 1992, 1994).
Jadi, dalam membentuk tipologi dari nilai-nilai, Schwartz mengemukakan teori bahwa nilai berasal dari tuntutan manusia yang universal sifatnya yang direfleksikan dalam kebutuhan organisme, motif sosial (interaksi), dan tuntutan institusi sosial (Schwartz & Bilsky, 1987). Ketiga hal tersebut membawa implikasi terhadap nilai sebagai sesuatu yang diinginkan. Schwartz menambahkan bahwa sesuatu yang diinginkan itu dapat timbul dari minat kolektif (tipe nilai benevolence, tradition, conformity) atau berdasarkan prioritas pribadi / individual (power, achievement, hedonism, stimulation, self-direction), atau kedua-duanya (universalism, security). Nilai individu biasanya mengacu pada kelompok sosial tertentu atau disosialisasikan oleh suatu kelompok dominan yang memiliki nilai tertentu (misalnya pengasuhan orang tua, agama, kelompok tempat kerja) atau melalui pengalaman pribadi yang unik (Feather, 1994; Grube, Mayton II & Ball-Rokeach, 1994; Rokeach, 1973; Schwartz, 1994).
Nilai sebagai sesuatu yang lebih diinginkan harus dibedakan dengan yang hanya ‘diinginkan’, di mana ‘lebih diinginkan’ mempengaruhi seleksi berbagai modus tingkah laku yang mungkin dilakukan individu atau mempengaruhi pemilihan tujuan akhir tingkah laku (Kluckhohn dalam Rokeach, 1973). ‘Lebih diinginkan’ ini memiliki pengaruh lebih besar dalam mengarahkan tingkah laku, dan dengan demikian maka nilai menjadi tersusun berdasarkan derajat kepentingannya.
Sebagaimana terbentuknya, nilai juga mempunyai karakteristik tertentu untuk berubah. Karena nilai diperoleh dengan cara terpisah, yaitu dihasilkan oleh pengalaman budaya, masyarakat dan pribadi yang tertuang dalam struktur psikologis individu (Danandjaja, 1985), maka nilai menjadi tahan lama dan stabil (Rokeach, 1973). Jadi nilai memiliki kecenderungan untuk menetap, walaupun masih mungkin berubah oleh hal-hal tertentu. Salah satunya adalah bila terjadi perubahan sistem nilai budaya di mana individu tersebut menetap (Danandjaja, 1985).